arif's posts with tag: pesan
Dari milis tetangga: Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah di depan sebuah rumah. Ketika pintu rumah terbuka lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Sang lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, sa’atnya menikmati makanan segar”, katanya. Setelah kenyang sang lalat bergegas ingin keluar namun ternyata pintu kaca itu tertutup rapat. Sang lalat pun terbang disekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak mengenal menyerah sang lalat berusaha keluar dari pintu kaca, lalat itu merayap mengelilingi dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak balik demikian terus dan terus berulang kali. Esok paginya lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai. Tak jauh tampak serombongan semut berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan dan ketika menjumpai lalat yang tidak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai mengigit tubuh lalat itu hingga mati lalu mengangkut bangkai itu ke sarang mereka. Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua: “Ada apa dengan lalat ini ?, mengapa dia sekarat ?.” “Oh itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini, sebenarnya mereka ini telah berusaha keluar, dia frustrasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat menjadi menu makanan kita.” Semut kecil itu tampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi:”Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu telah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil ?.” Masih berjalan sambil memanggul bangkai lalat, semut tua menjawab:”Lalat itu tak mengenal menyerah dan berusaha berulang kali, hanya saja dia melakukan cara-cara yang sama.” Semut tua memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada yang lebih serius:”Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama dengan mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini.” Makna dari fabel diatas untuk mengingatkan kita didalam meraih kemenangan adalah : “Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang berbeda yang tidak terpikirkan oleh lawannya.” ndar@yahoo.com
AKU padahal lupa, tetapi banyak sekali teman yang telah mengirim hadiah padaku, dan ada seorang teman tang mengirim kata-kata indah seperti ini :
Assalamu'alaikum Temans.... Kuucapkan selamat Milad di hari kelahiranmu nanti, entah apakah ini terlalu cepat atau lambat tapi hanya Do'a tulus dari seorang Mujahidah, semoga semakin dewasa seiring berkurangnya usia...
POTRET USIA
Dalam terbit dan terbenamnya Matahari Dalam datang & berlalunya pagi & senja hari Tak ada kata BERHENTI Untuk detik yang terus memburu
Menit, Jam, dan waktu lalu menghempasnya Jauh... ke dalam onggokan keranjang masa silam Bersamanya, kau dibawa mempersaksikan hari ini
Yang menjadi kemarin untuk esok dan kau adalah tak mungkin memintanya menunggu, sementara kau lena...
Mungkin, hanya inilah jawab tentang jika kau bertanya "APA ITU USIA?"
Usia adalah senja yang tak kau sadari Diam-diam menatap paras wajahmu,
Usia adalah jejak-jejak tua yang terpahat pada tunas-tunas perawan
dan...
Usia adalah perjalanan yang tersisa menuju sebuah kehilangan....
Selamat Beranjak Dewasa Selamat Memaknai Usia
~Special gift for my contact who celebrate the B'day in this month~ From Mujahidah [*_*]
Semalam saya keluar dari Ranch Market jam 8.30. Hujan deras. Petugas Ranch Market setengah berlari mendorong trolly berisi barang-barang belanjaan saya. Saya juga berlari-lari kecil menjajari langkahnya menuju mobil. Saya membukakan bagasi dan petugas memindahkan barang-barang belanjaan saya.
Seorang penjaja kue semprong mendekati kami. Memang setahu saya banyak penjaja kue semprong disana menjajakan barang dagangannya dengan sedikit memaksa. Karena terlalu biasa saya tidak Mengacuhkannya, apalagi di hujan deras seperti ini. Setelah memberikan tip saya masuk mobil, namun masih saya dengar ucapan penjaja kue semprong tersebut, "Bu, beli kue semprongnya untuk ongkos pulang ke Tangerang". Didalam mobil saya berpikir saya kasih uang saja karena penganan yang saya beli di supermarket sudah cukup banyak, bagaimana jika tidak ada yang menghabiskannya, nanti jatuhnya mubazir. Saya memang lebih suka dengan para penjaja kue seperti ini ketimbang pengemis. Pelajaran berharga yang pernah saya dapat dari mantan bos saya sembilan tahun lalu.
Masih teringat ucapannya ketika itu kami berdiskusi di kantor. "Coba kalau ada penjaja makanan atau barang dan pengemis dilampu merah mana yang kamu berikan uang?" tanyanya. Belum sampai kami menjawab, ia berkata lagi "Pasti yang kamu berikan uang si pengemis itu dan penjaja makanan atau barang itu kamu acuhkan". Secara serempak kami mengiyakan. "Coba pikirkan lagi, si pengemis itu pemalas tidak bermoral, kenapa kita kasih uang, sementara si penjaja makanan ataupun barang punya harga diri, dan pastinya secara pribadi lebih baik dari si pengemis, lalu kenapa kita tidak membeli barang dagangan si penjaja makanan atau barang tersebut?" Teman saya nyeletuk, "Karena kita ngga butuh". Mantan bos saya bergumam, "Ya betul karena kita tidak butuh".
Obrolan itu begitu singkat, tapi begitu mengena di hati saya. Pak Teddy Sutiman membuka mata hati saya untuk lebih bijaksana dalam melihat suatu persoalan, bukan hanya berpikir praktis saja. Dan sejak itu saya lebih memberi perhatian kepada para penjaja makanan atau barang di jalanan dibandingkan para pengemis.
Penjaja jual kue semprong itu masih dengan setia menanti disisi mobil saya. Saya menghela nafas, bukan karena tidak rela berbagi rejeki tapi karena menyesali banyak sekali penganan yang sudah saya beli tadi. Akhirnya saya membuka kaca, "Pak, saya tidak mau beli kue semprongnya, tapi kalau bapak saya beri uang mau tidak?". Tidak dinyana penjaja kue semprong itu menggelengkan kepalanya dan pergi dengan cepatnya dari sisi mobil saya. Saya tersentak dan menutup kaca jendela, hujan mengguyur deras dan membanjiri sisi kaca dalam mobil saya karena berbicara dengan si penjaja kue semprong.
Beberapa detik saya kehilangan daya ingat saya, karena tidak menyangka ucapan yang keluar dari penjaja kue semprong tadi. Sembilan tahun saya telah lebih memberi perhatian kepada para penjaja makanan ataupun barang dibanding pengemis. Sesekali jika saya tidak butuh barang mereka, selalu saya ucapkan kalimat tadi, dan hampir semuanya tidak pernah menolak pemberian saya. Baru kali ini ada yang menolaknya. Baru kali ini ...
Hujan mengguyur makin deras dan saya masih terpaku di mobil, terbayang ucapannya "...untuk ongkos pulang ke Tangerang.." Sementara total nilai belanjaan saya tadi mungkin bisa untuk ongkos pulang Bapak penjaja kue semprong selama tiga bulan. Tersentak saya mencari-cari bayangan penjaja kue semprong ditengah kabut dari derasnya hujan, terlihat pikulannya ada di pinggir teras sebuah toko tutup. Penjajanya duduk dibawah dengan muka pasrah. Saya mundurkan mobil menuju kearahnya. Kembali saya buka kaca jendela sebelah kiri ditengah guyuran hujan dan menjerit, "Pak, memang harganya berapa ?". Ia menyebutkan sejumlah harga yang sangat murah. Akhirnya saya katakan, "Ya sudah deh beli satu". Dia mebawa kue semprong pesanan saya didalam plastik. Sampai di mobil, saya serahkan uang, dan dia bengong karena saya tidak menyerahkan uang pas. Saya tau dia pasti bingung memikirkan kembaliannya, tapi dengan cepat saya katakan, "Kembaliannya ambil buat Bapak saja". Dia bengong. "Ambil saja Pak, ini rejeki Bapak, memang hak Bapak". Dia meneguk ludah, sebelum sempat dia mengucapkan apa-apa saya langsung menutup kaca mobil dan pergi.
Tiba-tiba air mata ini mengalir deras melebihi derasnya hujan diluar sana. Kalau Bapak itu tidak menerimanya, saya tidak tahu seberapa sakitnya hati saya, karena didalam rejeki saya ada hak mereka termasuk hak Bapak penjaja kue semprong itu. Tiap bulan memang selalu saya sisihkan buat mereka, tapi mengetahui bahwa saya telah memberikan betul-betul kepada orang yang berhak menerimanya, betul-betul kepada orang yang berhati mulia,dan betul-betul kepada orang yang membutuhkannya, betul-betul membuat saya merasa hidup saya begitu bermakna dan saya sangat bersyukur atas rahmat-Nya.
Ditengah leher saya yang sakit sekali karena tercekat, saya berdoa kepada Allah agar Bapak penjaja kue semprong tersebut dan keluarganya diberikan rahmat, kemurahan rezeki dan kemudahan hidup oleh Allah. Dan saya bersyukur atas segala rahmat dan kemudahan hidup yang diberikan Allah kepada saya dan keluarga saya. Hujan masih deras mengguyur kaca mobil.
Mudah-mudahan hujan cepat reda supaya bapak penjaja kue semprong tadi bisa pulang tanpa kehujanan.
Dari milist tetangga, semoga bermanfaat. ldf 30/7/06)
Salah satu hal yang paling disukuri dalam hidup ini adalah memiliki begitu banyak sahabat. Mereka tidak hanya membuat hidup lebih baik tetapi juga sebagai penambahan semangat. Tak terbayangkan apa jadinya hidup ini tanpa mereka. Sa’at- sa’at senang, bisa dinikmati bersama sehingga kegembiraan itu berlipat ganda. Begitupu pada sa’at susah, bisa saling berbagi, saling memberi dukungan sehingga beban hidup beratnya berkurang. Meskipun semua sadar bahwa hidup perlu orang lain tetap saja terkadang bertingkah sebaliknya. Tampaknya benar bahwa setiap manusia cenderung egois, lebih tertarik pada dirinya sendiri daripada orang lain.
Setiap orang ingin merasa dirinya penting, berharga dan punya nilai. Inilah yang membuat kita terkadang susah membina persahabatan.Ada pesan yang menarik, “Salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah merendah dihadapan orang lain.” Ya’ kerendahan hati seolah menjadi “barang langka”. Ada sebuah pepatah:
Aku pergi keluar mencari sahabat, tak kutemukan satupun. Aku keluar untuk menjadi sahabat, kutemukan sahabat dimana-mana.
Cara mencari sahabat adalah dengan menjadi sahabat terlebih dahulu bagi orang lain. Setiap orang ingin merasa dirinya Penting, Berharga dan punya nilai. Inilah yang membuat kita terkadang susah membina sebuah persahabatan.
Ada pesan yang menarik, “Salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah merendah dihadapan orang lain.” Ya, kerendahan hati seolah menjadi “barang langka”.
Ada sebuah pepatah:
Hal yang juga penting dalam membangun persahabatan adalah ketulusan. Berbuat baiklah kepada orang lain semata-mata karena ia adalah manusia. Bukan karena kita mengaharapkan sesuatu darinya.
Senyuman bisa seketika mencairkan hubungan yang beku. Lagipula untuk tersenyum kita hanya memerlukan 14 otot, dibandingkan dengan cemberut yang membutuhkan
Kehadiran sahabat akan membuat hidup makin bernilai. Tanpa disadari akan menjadi semacam jaringan Bisnis yang kokoh di kemudian hari.
| |