arif's posts with tag: islam
Banyak orang merasakan hidup ini semakin susah, Segala Usaha, Ihtiar selalu gagal dan macet, sedangkan beban hidup semakin berat. Sebagai seorang Muslim kita harus memiliki keyakinan untuk meraih Rizki. Ada beberapa hal yang mendatang Rizki, yaitu: Bertakwa. Takwa merupakan salah satu sebab yang dapat mendatangkan rizki dan menjadikannya terus bertambah. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengada-kan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (QS: 65:3). dan dinyatakan juga dalam (QS.7:96): “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Tawakal. Tawakkal kepada Allah merupakan bentuk memperlihatkan kelemahan diri dan sikap bersandar kepada-Nya saja, lalu mengetahui dengan yakin bahwa hanya Allah yang memberikan pengaruh di dalam kehidupan. Segala yang ada di alam berupa makhluk, rizki, pemberian, madharat dan manfaat, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat, kematian dan kehidupan dan selainnya adalah dari Allah semata. Rasulullah bersabda : “Sungguh seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal niscaya kalian akan diberikan rizki sebagai-mana rizki-rizki burung-burung, mereka berangkat pergi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang” (HR. Timidzi No. 2344). Allah swt juga berfirman, artinya, “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. ” (QS. 7:96) Istighfar dan Taubat. Termasuk sebab yang mendatang kan rizki adalah istighfar dan taubat, sebagaimana firman Allah yang mengisahkan tentang Nabi Nuh Alaihissalam , “Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. ” (QS. 71:10-12).
Istighfar yang dimaksudkan adalah istighfar dengan hati dan lisan lalu berhenti dari segala dosa, karena orang yang beristighfar dengan lisannnya saja sementara dosa-dosa masih terus dia kerjakan dan hati masih senantiasa menyukainya maka ini merupakan istighfar yang dusta. Istighfar yang demikian tidak memberikan faidah dan manfaat sebagaimana yang diharapkan. “Barang siapa yang memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah) niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihan jalan keluar, untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberikan rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka “(HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah) Allah menegaskan pula dalam (QS. 11, Hud: 3) : “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat“. dan dalam (QS. 5:39): "Maka barang siapa bertobat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Itulah taubat yang menyesali dan menghentikan dosa dan maksiat kemudian menggantikannya dengan amal shalih dan keridhaan sesama. Hijrah fisabilillah. Hijrah ini membukakan pintu rizki Allah dengan janjiNya dalam surat An-Nisa ayat 100: “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Berinfaq. Yaitu infaq yang dianjurkan agama, seperti kepada fakir miskin, untuk agama Allah. Infak manjadikan pintu rizki terbuka, Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji dalam (QS: Saba: 39) “Katakanlah: “Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendakiNya diantara hamba-hambaNya dan menyempitkan (siapa yang dikehendakiNya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya”. Meskipun sedikit, tetap diganti di dunia dan di akhirat (Tafsir Ibnu Katsir 3/595) jaminan Allah pasti lebih disukai orang yang beriman dari pada harta dunia yang pasti akan binasa (lihat At-Tafsir: Al-Kabir, 25:263) dan berinfak adalah sesuatu yang dicintai Allah (lihat tafsir Takrir wat Tanwir, 22:221). Para malaikat mendoakan: “Ya Allah, berikanlah kepada orang-orang berinfak ganti” (HR. Bukhari No. 1442). Silaturrahim. Ada banyak hadits yang menjelaskan bahwa silaturrahim merupakan salah satu sebab terbukanya pintu rizki, di antaranya adalah sebagai berikut: -Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, artinya, ” Dari Abu Hurairah ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah menyambung silaturrahim. ” (HR Al Bukhari) -Sabda Nabi saw, artinya, “Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, ” Ketahuilah orang yang ada hubungan nasab denganmu yang engkau harus menyambung hubungan kekerabatan dengannya. Karena sesungguhnya silaturrahim menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta dan memperpanjang umur.” (HR. Ahmad ) Yang dimaksudkan dengan kerabat (arham) adalah siapa saja yang ada hubungan nasab antara kita dengan mereka, baik itu ada hubungan waris atau tidak, mahram atau bukan mahram. Silaturahmi yaitu berbuat baik kepada segenap kerabat dari garis keturunan maupun perkawinan dengan lemah lembut, kasih dan melindungi (Muqatul Mafatih, 8/645) Silaturahim ini menjadi pintu pembuka rizki adalah karena sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam: “Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahmi”. (HR. Bukhari No. 5985) . Silaturahim ini menyangkut pula kerabat yang belum Islam atau yang bermaksiat, dengan usaha menyadarkan mereka, buka mendukung kemungkaran atau kemaksiatannya. Namun bila mereka semakin merajalela dengan cara silaturahim ini maka menjauhi adalah yang terbaik, namun tetap kita mohonkan hidayah. Ibadah haji dengan umrah, Umrah dengan hajji yang tulus hanya mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam: “Lanjutkanlah haji dengan umrah, karena sesunguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, sebagaimana api dapat hilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji yang mabrur itu melainkan Surga.” (Ahmad No. 3669, Timidzi No. 807, Nasa’I 5:115, Ibnu Khuzaimah No. 464, Ibnu Hibban No. 3693). Berdasarkan pada hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dari Ibnu Mas’ud Radhiallaahu anhu dia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya, “Ikutilah haji dengan umrah karena sesungguhnya keduanya akan menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana pande besi menghilangkan karat dari besi, emas atau perak, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. at-Tirmidzi dan an- Nasai, ) Maksudnya adalah, jika kita berhaji maka ikuti haji tersebut dengan umrah, dan jika kita melakukan umrah maka ikuti atau sambung umrah tersebut dengan melakukan ibadah haji.
Hadist dari Abu Hurairah yang telah disepakati al-Bukhary & Muslim Rasulullaah Shalallaahu 'alaihy wasallam bersabda: "Ada 7 golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya. Pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya,yaitu:
- Pemimpin yang adil
- Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya
- Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan Masjid
- Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul & berpisah karena Allah
- Seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan cantik & berkedudukan untuk berzina tetapi dia berkata, "Aku takut kepada Allah"
- Seorang yang memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya
- Seseorang yang mengingat Allah di waktu sunyi sehingga bercucuran air matanya."
Dalam riwayat Muslim yang lain, hadist dari Abu Hurairah, Rasulullaah Shalallaahu 'alaihy wasallam bersabda: Sesungguhnya kelak di hari kiamat, Allah akan berfirman, "Dimana orang2 yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepada-Nya dalam naungan-Ku di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku" "Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai . Apakah tidak perlu aku tunjukkan pada satu perkara, jika kalian melakukannya, maka niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian" *tantan.h*
Media Indonesia, 10 Oktober 2007
Penulis: T Djamaluddin, Peneliti Utama Astronomi Astrofisika, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan, Bandung, Anggota Badan Hisab Rukyat, Depag RI
Ilmu hisab untuk menghitung posisi bulan dan matahari, sebagai bagian astronomi, bukanlah ilmu langka. Kini banyak yang menguasainya, termasuk ormas Islam, seperti Muhammadiyah, NU, dan Persis.
Bahkan dengan banyaknya program komputer, siapa pun yang bisa mengoperasikannya dengan mudah dapat menghitung posisi bulan dan matahari. Masalahnya, tidak semua orang mengerti arti angka dalam penentuan awal bulan Qamariyah, khususnya dalam penentuan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Kini, dengan metode astronomi yang sama, bahkan dengan program komputer, hasil hitungan pasti akan sama. Tidak peduli siapa yang menghitung, apakah Muhammadiyah, NU, Persis, atau orang awam. Terlalu naif, ada yang merasa hasil hisabnya lebih unggul dan seolah metodenya beda dengan metode ormas lain yang menggunakan rukyat. Padahal tidak ada bedanya, semua ormas bisa menghitung dengan hasil yang sama.
Dalam astronomi, yang menjadi induk ilmu hisab dan rukyat, tidak ada dikotomi hisab (perhitungan) dan rukyat (observasi). Keduanya saling mendukung dan tidak bertentangan. Kekisruhan yang terjadi dalam perbedaan penentuan Idul Fitri semata-mata lebih bernuansa kesalahpahaman hisab rukyat yang diperparah dengan ego keormasan.
Kalau kita kaji akar masalahnya, sebenarnya sederhana solusinya. Samakan kriterianya dalam menafsirkan angka-angka hasil hisab. Banyak yang pesimistis menyatukan pendapat antara Muhammadiyah dan NU, karena berbeda keyakinan dalam memahami dalil syariat. Banyak juga yang mengira sumber perbedaan adalah pertentangan antara kubu hisab dan rukyat.
Belajarlah dari ilmu induknya, astronomi, untuk menafsirkan makna angka-angka hasil hisab yang seharusnya tidak bertentangan dengan hasil rukyat. Penyatuan hasil hisab dan rukyat dalam menyimpulkan masuk awal bulan atau belum, terletak pada kriteria awal bulan. Kini ada dua kriteria yang digunakan dua ormas yang sering menimbulkan kesimpulan berbeda ketika posisi bulan di Indonesia berada pada ketinggian di antara dua kriteria tersebut, seperti terjadi pada 2006 dan 2007.
Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudul hilal (bulan telah wujud di atas (ufuk) dengan prinsip wilayatul hukmi (berlaku di seluruh Indonesia sebagai satu kesatuan hukum). Sementara itu, NU menggunakan ketinggian minimal 2 derajat dengan prinsip menunggu hasil rukyat. Kedua kriteria itu adalah kriteria lama yang secara astronomi dianggap ketinggalan zaman. Sebenarnya sangat memalukan bila masih ada pihak yang tetap Mempertahankannya. Apalagi bila dianggapnya sesuatu yang qath'i (mutlak benarnya) secara hukum. Kita bisa bersatu kalau kita menyempurnakan kriteria kemudian menyepakatinya sebagai kriteria hisab rukyat yang baru. Dalam konsep ini, bukan meminta yang satu naik yang lain turun, tetapi mengajak semua pihak sama-sama maju selangkah.
Muhammadiyah
Bagaimana Muhammadiyah harus melangkah tanpa meninggalkan keyakinannya bahwa hisab dapat digunakan sebagai penentu awal bulan. Kita coba pendekatan lain menuju titik temu. Tidak menggunakan alur lama ketika membahas dalil, tetapi alur alternatif untuk mencari titik temu.
Secara ringkas, alur alternatif itu; Dalam Alquran (QS) 2:185 diperintahkan berpuasa bila telah menyaksikan syahr (bulan kalender,month, bukan moon). Apa tandanya syahr QS 2:189 menjelaskan tentang hilal sebagai penentu waktu bagi manusia dan penentu pelaksanaan ibadah haji. Bagaimana memanfaatkan hilal untuk penentu syahr? Muhammadiyah biasanya menggunakan QS 36:39-40 yang menjelaskan bahwa matahari tidak mungkin mengejar bulan dan malam pun tidak mungkin mendahului siang. Tafsir singkatnya, syahr dapat ditentukan ketika matahari mulai mengejar bulan (mendahului terbenam) pada peralihan siang dan malam, yaitu kriteria wujudul hilal. Ini adalah kriteria paling sederhana, tetapi mengabaikan aspek rukyat. Untuk mencari titik temu, alurnya diubah ke dalil lain yang juga kuat.
Apakah tandanya syahr, Rasulullah SAW menjelaskan secara eksplisit, "Berpuasalah bila melihatnya (hilal) dan berbukalah bila melihatnya." Maka hilal sebagai penentu syahr adalah yang terlihat. Dengan perkembangan ilmu, posisi bulan bisa dihitung dengan ilmu hisab. Lalu apa syaratnya agar terlihat? Ini dirumuskan dengan suatu kriteria imkan rukyat (kemungkinan rukyat) atau kriteria visibilitas hilal yang didasarkan pada pengalaman rukyat jangka panjang dan dihitung dengan ilmu hisab.
Banyak ahli hisab yang terkesan antikriteria imkan rukyat, dengan ungkapan "Kalau sudah menghisab, mengapa harus membahas rukyat." Kepada mereka perlu dijelaskan, angka-angka hasil hisab tidak bisa langsung ditafsirkan menjadi awal bulan Qamariyah tanpa menggunakan kriteria. Kriteria itu bisa sekadar wujud di atas ufuk (wujudul hilal) dan bisa juga kemungkinan untuk dirukyat. Komunitas astronomi merujuk pada kemungkinan untuk dirukyat (imkan rukyat atau visibilitas hilal). Untuk mencapai titik temu, kriteria yang harus dipilih adalah kriteria imkan rukyat. Inilah yang disebut maju selangkah, memilih kriteria yang menuju titik temu. Muhammadiyah nantinya perlu merumuskan bersama kriteria imkan rukyat yang bagaimana yang diusulkan. Apakah berdasarkan rukyat lokal atau hasil analisis internasional.
NU
NU pun harus maju selangkah, tanpa harus mengubah keyakinan, rukyat yang menentukan. Kriteria imkan rukyat yang selama ini digunakan perlu diubah. Kriteria 2 derajat berasal dari data pengamatan yang menyatakan hilal terendah yang berhasil diamati ketinggiannya 2 derajat. Dalam kompilasi hasil sidang isbat Depag memang ada data pada 16 September 1974 dilaporkan rukyat berhasil dilihat di 3 lokasi dengan jumlah saksi 10 orang, tanpa gangguan Venus. Hasil analisis hisab menunjukkan tinggi bulan 2,19 derajat. Setelah itu tidak ada lagi data yang cukup meyakinkan mendukung ketinggian 2 derajat.
Analisis yang dilakukan Lapan dari kompilasi hasil sidang isbat 1962-1997 itu dijumpai kenyataan, pada umumnya tinggi bulan yang rendah hanya dilaporkan dari 1 atau 2 lokasi pengamatan dari sekian banyak titik pengamatan. Hal itu menunjukkan besarnya kemungkinan salah lihat objek bukan hilal. Bahkan sebagian di antaranya mengindikasikan pengamat terkecoh cahaya planet Venus (bintang Kejora) yang posisinya dekat posisi bulan.
Dari analisis itu diusulkan kriteria imkan rukyat dengan ketinggian bulan yang tergantung beda azimut (beda jarak horizontal di kaki langit) antara bulan dan matahari. Bila jaraknya jauh dari matahari, ketinggian minimal 2 derajat, tetapi makin dekat dengan matahari ketinggiannya harus makin tinggi, tidak pukul rata 2 derajat seperti kriteria lama. Bila bulan tepat berada di atas matahari, saat matahari terbenam ketinggiannya perlu lebih dari 8,3 derajat. Kriteria itu masih bisa dikaji ulang. Kalau kriteria limit Danjon (batas minimal jarak bulan-matahari) diperhitungkan, kriterianya akan makin mendekati kriteria internasional dengan ketinggian minimal 3 derajat.
Bila nanti kriteria imkan rukyat sudah ditetapkan, masalah lain yang harus diselesaikan adalah bila hilal sudah di atas kriteria imkan rukyat, tetapi tidak ada kesaksian hilal. Demi mencapai titik temu, Fatwa MUI 1981 dapat digunakan, seperti halnya saat sidang isbat penetapan awal Ramadan 1407/1987. Salah satu butir fatwa itu menyatakan bila ahli hisab telah sepakat bahwa malam itu sudah imkan rukyat tetapi hilal tidak dapat dilihat karena terhalang, keesokan harinya dapat ditetapkan tanggal 1 bulan baru. Artinya, kriteria imkan rukyat cukup menentukan. NU harus maju satu langkah dengan memperbaiki kriteria imkan rukyat dan menerima fatwa MUI 1981 tersebut. Bila masih keberatan dengan fatwa MUI tersebut, perlu juga diingat bahwa kriteria imkan rukyat juga didasari pada hasil rukyat masa lalu. Jadi pada dasarnya menggunakan kriteria imkan rukyat dalam mengambil keputusan tidak berarti mengabaikan rukyat pada saat itu. Dengan kriteria imkan rukyat dapat juga ditolak kesaksian yang di bawah kriteria karena kemungkinan terkecoh objek bukan hilal, kecuali bila dilaporkan dari banyak tempat dan tidak ada pengganggu dari planet Venus atau Merkurius.
Bersatu ber-Idul Fitri
Tampaknya, kalau pun Muhammadiyah dan NU mau maju satu langkah menunjuk titik temu kriteria imkan rukyat yang baru, implementasinya tidak bisa dilaksanakan untuk mengubah potensi perbedaan Idul Fitri 1428 H. Mekanisme organisasi tampaknya akan Menghambatnya. Muhammadiyah tetap akan ber-Idul Fitri 12 Oktober dan NU ber-Idul Fitri 13 Oktober. Persis yang mendasarkan pada hisab, tetapi dengan kriteria imkan rukyat yang disederhanakan menjadi wujudul hilal di seluruh Indonesia, juga sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh 13 Oktober 2007.
Pertanyaan, dengan perbedaan itu mungkinkah merayakan Idul Fitri bersama? Jawabnya, mungkin dengan menunda salat ied agar bersama. Dalam salah satu kesempatan rapat Badan Hisab Rukyat, wakil dari Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia menyampaikan berdasarkan saran dari ulama di Arab Saudi, mendahulukan ukhuwah (persaudaraan) yang wajib lebih utama daripada salat id yang sunah. Karenanya menunda salat id keesokan harinya demi menjaga ukhuwah sangat dianjurkan, walaupun pada 12 Oktober sudah tidak berpuasa.
Menunda salat id dalilnya merujuk pada hadis riwayat Ahmad, Abu Daud, Al-Nasai, dan Ibn Majah. Diriwayatkan Rasulullah SAW tidak melihat hilal Syawal sehingga pada hari ke-30 Ramadan itu mereka masih berpuasa. Namun, kemudian pada penghujung siang (menjelang zuhur) datanglah rombongan yang mengabarkan mereka melihat hilal. Maka, Rasul segera menyuruh mereka untuk berbuka pada hari itu dan menunaikan salat id pada keesokan harinya.
Dalil ini diperdebatkan untuk menunda salat id untuk alasan lain selain terlambat melihat hilal. Tetapi dari riwayat diketahui bahwa rombongan yang melihat hilal pun ikut menunda salat sampai melaporkannya kepada Rasul dan kemudian diperintahkan untuk salat id keesokan harinya. Alangkah indahnya kalau saudara-saudara kita yang sudah meyakini Idul Fitri jatuh 12 Oktober membatalkan puasa pada hari itu, tetapi menunda salat idnya bersama saudara-saudara yang ber-Idul Fitri 13 Oktober. Ini bersifat ijtihadiyah. Kalau pun salah, setelah dikaji matang-matang, tidaklah berdosa. Namun, tujuan menjaga ukhuwah (persaudaraan) dan memperkuat syiar tercapai dengan bersalat Idul Fitri bersama.
Langkah menyatukan Idul Fitri bisa dimulai dengan bersama salat id, walau berbeda keputusan mengakhiri Ramadan. Kelak, setelah kriteria imkan rukyat yang baru dapat disepakati, kita dapat mengakhiri Ramadan dan ber-Idul Fitri benar-benar bersama. Kalender Islam pun mendapatkan kepastian dan keseragaman. Kita bisa bersatu.
Berhubung ada beberapa dalil yang berbeda tentang penentuan jatuhnya 1 Syawal, atau satu dalil namun ditafsirkan secara berbeda. Sehingga umat mengenal setidaknya dua metode, yaitu rukyatul hilal dan hisab. Kedua metode ini seringkali melahirkan hasil yang berbeda dalam penetapan tanggal. Tapi yang lebih menarik, bahkan meski sama-sama menggunakan rukyatul hilal, hasilnya belum tentu sama. Demikian juga, meski sama-sama pakai hisab, hasil seringkali juga berbeda. - Mengapa kita sekarang tidak melakukan rukyat? Sebab para ahli hisab sudah sepakat bahwa penentuan waktu sholat hasil hisab tersebut mewakili keadaannya sebenarnya dari efek sinar matahari yang menjadi pertanda datangnya waktu sholat itu.
- Mengapa hal yang sama tidak bisa dilakukan terhadap penanggalan bulan hijriah, tidakkah hisab bisa menghitung sampai pada waktu tertentu yang dapat mewakili keadaan sebenarnya dari penampakan hilal? Jawabannya tentu saja bisa, hanya yang jadi masalah adalah ummat belum sepakat dalam menentukan kriteria "waktu tertentu" yang bisa mewakili keadaan sebenarnya dari penampakan hilal tadi.
- Hal yang pertama harus diperhatikan oleh para pengguna hisab adalah, bahwa yang harus dihitung adalah pergerakan bumi – bulan – matahari sampai pada visibilitas hilal, bukan berhenti di titik konjungsi (ijtimak), yang merupakan bulan baru yang gelap dan tidak mungkin kelihatan. Bahkan tercapainya ijtimak seringkali terjadi satu hari sebelum penampakan hilal. Demikian juga masalah bulan terbenam setalah matahari terbenam, ini pun tidak berarti menunjukkan hilal akan selalu kelihatan. Kriteria utama dari terlihatnya hilal adalah sudut antara bulan dan matahari ketika matahari terbenam.
- Alhamdulillah sudah ada program komputer yang bisa membuat contoh/pola dimana dan kapan hilal bisa dilihat dengan mata telanjang, misalnya program mooncalculation yang dibuat oleh Dr. Monzur Ahmad. Memang ada daerah-daerah tertentu yang tidak bisa sepenuhnya dipastikan, dan dalam zona ini maka merukyat perlu dilakukan. Namun demikian dengan dengan dirumuskan 3 zona kalender Islam, maka tingkat ketidak pastian itu bisa diperkecil, sebab kesulitan menghitung kapan terlihatnya hilal di satu tempat bisa diimbangi dengan kemudahan dari titik tertentu yang masih satu zona. (lihat lampiran).
- Perbedaan hasil hisab dari para pengguna kriteria imkanur rukyat, sebenarnya tidak sering berbeda, justru hasil itu sering berbeda, dan memang akan banyak berbeda bila dibandingkan dengan para pengguna kriteria wujudul hilal. Sebab dari semenjak lahirnya ‘hilal’ (=bulan baru) hingga hilal itu terlihat diufuk oleh para pengamat, terkadang bisa berbeda sehari.
- Sebagaimana disebutkan terdahulu, bahwa pada kenyataannya, bulan baru (newmoon) yang diartikan sebagai bulan semenjak berlakunya berlakunya ijtimak. Pada saat ini, bulan sama sekali tidak kelihatan dari permukaan bumi karena seluruh bahagian yang disinari matahari membelakangi bumi. Bumi menghadap bulan yang sama sekali tidak terkena sinaran matahari.
- Bulan akan bergerak dari kedudukan ijtimaknya dari barat ke timur dengan kadar lebih kurang 13 derajat sehari. Atau dengan lain perkataan, bulan akan bergerak dari posisi segaris itu untuk membentuk satu sudut perpisahan antara bulan-bumi-matahari, yang dikenali sebagai sudut elonggasi.
- Lama kelamaan, permukaan bercahaya bulan akan mulai kelihatan sebagai hilal. Jelas bahwa parameter yang menjadi faktor kebolehnampakan (visibilitas) hilal adalah sudut elonggasi yang juga dikenali sebagai busur cahaya ( arc of light).
 Kriteria Visibilitas Hilal - Mengenai visibilitas ini ada beberapa kriteria, diantaranya:
- Menurut Andre Danjon, astronom Prancis, pada tahun 1932 mengadakan telaah atas pengurangan efek tanduk bulan sabit dan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa jarak sudut bulan-matahari (busur Cahaya, arc of Light, aL) sebesar 7 derajat merupakan batas bawah hilal dapat teramati oleh mata bugil.
- Sementara menurut para ahli astronomi modern, hilal baru mungkin dilihat (imkan rukyat) manakala fraksi permukaan bulan yang tercahayai matahari dan menghadap ke bumi sudah sebesar 1 persen. Hal itu dicapai bila jarak relatif bulan-matahari tak kurang dari 11,5 derajat. Antara limit invisibilitas Danjon dan limit visibilitas astronom modern tsb terdapat 'jarak hampa' 4.5 derajat.
- Dr Muhammad Ilyas, peneliti berkebangsaan Malaysia, pada tahun 1988 mempertajam limit itu dengan menyatakan bahwa hilal sudah mungkin dirukyat jika busur cahayanya minimal 10.5 derajat pada beda azimuth 0 derajat. Dengan limit Ilyas ini, panjang 'jarak hampa' tsb berkurang menjadi 3,5 derajat. Agar hilal dapat dilihat, hilal harus berada pada suatu ketinggian yang cukup untuk dapat dirukyat (diamati) oleh semua orang yang secara geografis berada dalam wilayah (regional) yang sama.
- Berbeda dengan Dr. Muhammad Ilyas, Muammaer Dizer, dari penelitiannya di observatorium Kandili, mengajukan limit yang lebih tajam lagi, yakni jarak sudut bulan-matahari minimal sebesar 8 derajat dan ketinggiannya minimal sebesar 5 derajat. Sekarang jarak hampa tsb berkurang lagi jadi hanya 1 derajat saja.
- Konferensi Islam tentang Penyatuan Awal Bulan Qamariyah 27-30 November 1978 di Istambul rupanya mengadopsi limit Dizer ini. Keputusan konferensi itu menyatakan perlunya dua syarat untuk imkan rukyat, yakni jarak sudut bulan-matahari tidak kurang dari 8 derajat, dan kedua, ketinggiannya tidak kurang dari 5 derajat.
- Taqwim Standard Empat Negara Asean, yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Jawatan Kuasa Penyelarasan Rukyat dan Taqwim Islam Negara-negara Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura, dalam lingkup MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) merumuskan kriteria yang lebih tajam, dalam penetapan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah adalah sebagai berikut: (a) tinggi bulan minimum 2 derajat; (b) jarak bulan-matahari minimum 3 derajat; dan (c) umur bulan saat maghrib minimum 8 jam.
- Umumnya para praktisi hisab di Indonesia, ada dua kriteria yang dijadikan acuan untuk penentuan awal bulan. Pertama, kriteria tinggi hilal yang memungkinkan hilal dapat dirukyat. Namun di antara ahli hisab sendiri belum ada kesepakatan tentang tinggi hilal yang dimaksud. Secara umum tinggi hilal adalah 2 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam. Kedua, kriteria konjungsi sebelum matahari terbenam, yang merupakan kriteria khusus untuk daerah di sekitar khatulistiwa. Dengan kriteria ini, hanya perlu dibandingkan waktu terjadinya konjungsi dengan waktu terbenamnya matahari. Disepakati usia bulan tidak kurang dari 8 jam setelah konjungsi agar hilal dapat diamati.
- Kriteria visibilitas hilal lainnya yang memiliki dasar-dasar ilmiah yang kokoh adalah yang ditetapkan oleh IICP (International Islamic Calendar Programme). Kriteria tersebut terbagi atas tiga bergantung pada segi yang diperhitungkan, yaitu pertama, kriteria posisi bulan dan matahari; batas-bawah tinggi hilal agar hilal dapat diamati adalah 4 derajat dengan syarat beda azimut bulan-matahari lebih besar dari 45 derajat, sedangkan bila beda azimutnya 0 derajat diperlukan ketinggian minimal 10,5 derajat. Kedua, kriteria beda waktu terbenam; hilal dapat teramati bila waktu terbenamnya minimal lebih lambat 40 menit dari waktu terbenamnya matahari. Untuk daerah di lintang tinggi, terutama di musim dingin, diperlukan beda waktu yang lebih besar. Ketiga, kriteria umur bulan dihitung sejak konjungsi; hilal dapat diamati bila berumur lebih dari 16 jam untuk pengamat di daerah tropis dan berumur lebih dari 20 jam untuk pengamat di lintang tinggi.
*dari milis tetangga*
Akhirnya kita dipertemukan lagi dengan bulan penuh barokah, bulan penuh ampunan, bulan penuh rakhmat. kita masih mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pahala sebanyak-banyaknya di bulan Ramadhan ini.
Taqoballahu minna wa minkum ya karim Marhaban ya Ramadhan Sucikan hati bersihkan diri, Ma'af lahir dan bathin.
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
"Dan Tuhanmu berkata ,Berdo'alah kamu kepada-Ku, Pasti akan kuperkenankan permintaanmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina-dina" (Q.S. Al Mu'min : 60). Pengertian berdo'a adalah memohon atau meminta pertolongan kepada Allah SWT, tetapi bukan berarti hanya orang yang terkena musibah saja yang layak memanjatkan do'a. Sebagai seorang Muslim kita layak berdo'a walaupun kita dalam keadaan sehat. Do'a merupakan unsur yang palin esensial dalam ibadah. Sebagaimana Sabda Rasulullah saw "Do'a itu ibadah" (H.R. Abu Daud, Tirmizi, Nasai dan Ibnu Majah). "Tiada sesuatu yang paling mulia dalam pandangan Allah, selain dari berdo'a kepada-Nya, sedang kita dalam keadaan lapang"(H.R. Al Hakim). Didalam berdo'a ada tata cara. waktu dan tempat berdo'a. Tata cara berdo'a -
Menghadap Kiblat Hal ini berdasarkan sebuah hadis "Rasulullah datang ketempat wuquf diArafah dan ia menghadap kiblat lalu terus menerus berdo'a sehingga tenggelam matahari" -
Membaca Hamdalah atau pujian, Istighfar dan membaca Shalawat Salah seorang Sahabat Nabi berkata : "Ketika Nabi Muhammad saw duduk dimesjid, tiba-tiba datang seorang laki-laki masuk, lalu ia shalat. Setelah selesai ia membaca doa,'Allahummaghfirlii warhamnii'. Maka waktu itu Rasulullah pun berkata, wahai kawan, engkau terburu-buru. Jika kau shalat, duduklah dahulu kemudian bacalah puji-pujian kepada Allah. Karena dia yang memiliki pujian itu, lalu kau baca shalawat kepadaku kemudian baru berdo'a .Kemudian datang seorang yang lain setelah shalat ia memuji Allah dan membaca shalawat untuk Nabi Muhammad saw. dan setelah itu Nabi bersabda, Berdo'alah akan dipenuhi." -
Dengan suara lembut dan rasa takut Sebagaimana Firman Allah SWT yang berbunyi, "Berserulah (Berdo'a) kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah engkau berbuat kerusakan dibumi sesudah (Allah SWT ) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak diterima) dan harap (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (Q.S. Al A'raf : 55-56) -
Yakin akan dipenuhi Didalam berdoa kita harus yakin dan berprasangka baik kepada Allah, seperti hadis berikut ini : "Sesungguhnya Alla 'Azza wa Jalla berfirman : Aku akan mengikuti prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku selalu menyertainya apa bila ia berdoa kepada-Ku". Waktu yang paling baik -
Antara azan dan Iqamat. -
Menjelang waktu shalat dan sesudahnya. -
Waktu sepertiga malam yang terakhir. -
Sepanjang hari jum'at -
Antara Dzuhur dan Ashar, serta Ashar dan Maghrib -
Ketika Khatam membaca Al-Qur'an -
Ketika Turun hujan. -
Ketika melakukan Tawaf. -
Ketika menghadapi musuh dimedan perang. -
Tempat-tempat yang baik untuk berdo'a -
Didepan dan didalam Kabah. -
Dimasjid Rasulullah saw. -
Di belakang makam Nabi Ibrahim as. -
Diatas bukit Safa dan Marwah. -
Di Arafah, di Muzalifah, di Mina dan disisi jamarat yang tiga. -
Di tempat-tempat yang mulia lainnya seperti Masjid atau Mushalla *Forum Silahturahmi Muslim UPI*
"Telah bersabda Nabi SAW. Sesungguhnya hamba yang berdoa itu tidak terlepas dari salah satu tiga perkara, yaitu: (1) ada kalanya ia diampuni dosanya; (2) atau mendapat kebaikan pada saat didunianya, yaitu dikabulkan langsung ketika masih didunia; (3) atau mendapat kebajikan nanti diakhirat (tidak dikabulkan saat dia masih didunia tetapi menjadi simpanan baginya nanti di akhirat)".
Seorang sufi yang hidup abad VIII M bernama Ibrahim bin Adham pernah berpidato dihadapan orang banyak/jamaahnya yang kebanyakan dari mereka nyaris berputus asa karena doanya yang sudah lama belum dikabulkan. Ibrahim bin Adham mengatakan setelah memberi salam, memuji kepada Allah SWT, dan membaca shalawat atas Nabi Muhammad SAW ; "Doa Anda tidak dikabulkan karena sepuluh sebab, yaitu" :
1."Kalian mengenal Allah, tetapi tidak mendatangkan hak-Nya". 2."Kalian membaca Alquran, tetapi tidak mengamalkan isinya". 3."Kalian mengatakan musuh setan, tetapi kalian mengikuti dan bersesuaian dengannya". 4."Kalian mengatakan menjadi umat Nabi Muhammad, tetapi tidak mengikuti jejak dan perbuatannya". 5."Kalian menginginkan masuk surg, tetapi tidak berbuat yang menghantarkannya". 6."Kalian ingin selamat dari neraka, tetapi justru mencampakan diri kalian kedalamnya". 7."Kalian mengatakan bahwa mati itu pasti, tetapi tidak mempersiapkan bekal untuk mati". 8."Kalian sibuk memperhatikan aib/kejelekan saudara-saudaranya, tetapi tidak memperhatikan aib/kejelekan diri sendiri". 9."Kalian makan nikmat dari Tuhan kalian, tetapi tidak bersyukur kepada-Nya". 10. "Kalian ikut mengubur orang mati, tetapi tidak mengambil pelajaran dari padanya".
dikutip dari buku : Menjaga Cinta dan Ridha Allah yang Abadi(Sebuah Renungan Diri) yang dutulis oleh seorang milis
Adikku, ingin disayang Allah dan Rasul-Nya? Berbaktilah kepada kedua orang tua kalian. Berikut contoh-contoh praktis bentuk berbakti kepada orang tua … - Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi j disebutkan bahwa memberi kegembiraan kepada seseorang mukmin termasuk shodaqoh, lebih utama lagi kalau memberi kegembiraan kepada orang tua kita.
- Berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya dibedakan berbicara kepada kedua orang tua dengan kepada anak, teman atau dengan yang lain. Berbeicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua.
- Tawadhu’ (rendah diri). Tidak boleh kibr (sombong) apabila sudah meraih sukses atau memenuhi jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan dengan memberi makan, minum, pakaian dan semuanya.
- Memberi infaq (shodaqoh) kepada kedua orang tua. Semua harta kita adalah milik orang tua.
- Mendoakan kedua orang tua. Sebagaimana ayat: (artinya) Wahai robb-ku, kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku sewaktu kecil. Seandainya orang tua masih berbuat syirik serta bid’ah, kita tetap harus berlaku lemah lembut kepada keduanya.
Ditulis secara ringkas dari tulisan Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas dalam buletin Al-Hujjah, Mataram ed. 56/IV/rabi;ul Akhir
Jemie: Azan itu masih terngiang di telingaku
Sabtu 9 Juni lalu, saya datang ke Islamic Cultural Center of New York lebih awal. Selain ingin melihat dari dekat jalannya Weekend School (sekolah akhir pekan), juga sekretaris menelpon kalau ada seseorang yang ingin bertanya tentang Islam. Saya minta agar dipersilahkan datang setelah Zuhur sehingga bergabung dengan the Islamic Forum for non Muslims, tapi rupanya orang tersebut hanya bisa sebelum jam 12 siang itu.
Sekitar pukul 11 pagi masuklah seorang wanita bule dengan kerudung yang rapih. Saya sedikit terkejut sebab ketika masuk ke ruangan saya dia mengucapkan salam dengan sangat fasih, bahkan hampir saja saya mengira kalau yang bersangkutan itu adalah orang Syam (Palestina, Jordan atau Libanon).
Saya kemudian mempersilahkannya duduk dan bertanya: "Hi, what's your name and where are you from?" Dengan sedikit tersenyum dia menjawab: "Hi,. I am Jemie. I am from here but my parents are from Texas". Saya ingin tahu kepasihan dia dalam bersalam, maka saya tanya: "How come you said salaam in way that's so perfect? I tended not to believe that you're an american". "Oh..I know Arabic and speak it fluently" jawabnya cepat.
Mendengar itu, saya balik stir dari Inggris ke Arab. "Aena darasti al Arabiyah?" tanyaku. "Darastuha fi Suriyah, lakin qabla sanawaat", jawabnya. Tanpa terasa percakapan saya dengannya memakan waktu cukup panjang dalam bahasa Arab, termasuk kenapa sampai belajar bahasa Arab di Suriah dan untuk apa. Dari penjelasannya, ternyata dia bekerja di Kementrian Luar Negeri dan sekarang ini pindah tugas di DPI (Department of Public Information) PBB New York.
Saya kemudian memulai bertanya tentang keinginannya mengetaui Islam. "I know a lot about Islam. Basically I am coming this morning because I feel this is the right time for me", katanya. "What do you mean the right time?" tanyaku. Dengan sedikit serius dia menjelaskan: "For the last many years, about 10 years, I have been so confused and struggling within my self". "Why is that?" tanyaku dengan sedikit heran.
Tiba-tiba saja, Jemie yang tadinya nampak tegar dan selalu tersenyum itu, kini meneteskan airmata. "You know, I tried my best not to this", katanya sambil mengusap air matanya. "Why is that?" tanyaku. "This may kill my career" katanya agak gusar. Saya kemudian bertanya dengan serius: "What do you mean killing your career?". Seolah memaksakan tersenyum, Jemie mengatakan bahwa dia khawatri kalau masuk Islam akan susah meniti karir yang lebih tinggi.
Saya kemudian bertanya lebih jauh: "Why do you think in that way?". Ternyata karena pengalaman yang dia lihat selama ini di beberapa negara Muslim. Menurutnya, mayoritas wanita Muslim di negara-negara Muslim tidak bekerja dan lebih memperioritaskan dirinya kepada pekerjaan-pekerjaan rumah saja.
Saya kemudian mencoba menjelaskan ke Jemie bahwa tidak ada peraturan dalam Islam yang membatasi karir kaum wanita. Walau memang perlu diketahui bahwa karir itu akan dilihat kepada prioritas-prioritas tuntutan hidup. Kalau seandainya menjadi ibu rumah tangga itu menjadi tuntutan utama bagi wanita, dan ketika dipaksakan untuk meniti karir di luar maka berarti terjadi "kesemrawutan" dalam hidup.
Dari penjelasan-penjelasan yang cukup panjnag itu nampaknya Jemie sudah banyak tahu. Cuma ada semacam ketakutan tersendiri bahwa nantinya setelah menjadi Muslim dia akan dilarang untuk berkarir. "In fact, Islam wants all Muslim women to be professional. Didn't you read the hadith that commands the women to study as men?", jelasku.
Kini Jemie nampak lebih tenang. Hampir tidak berbicara dan bahkan beberapa kali saya pancing untuk bertanya juga tidak dihiraukan. Tiba-tiba saja sekali lagi nampak berlinang airmata dan mengatakan: "I have some thing to tell you!" "What's that?" tanyaku. Dia dengan nampak serius sekali walaupun terus meneteskan airmata mengatakan: "When I was in Syria around ten years ago, I was so impressed with the Azan". Saya mengatakan bahwa memang azan orang-orang Suriah itu indah. "Their voice is softer than other Arabs, kata saya. "But I swear, that azan never gone from my ear. I feel being listening to it all the time" katanya serius.
Tanpa sadar, saya langsung mengatakan "Subhanallah! ". Ternyata dia juga sudah tahu maknanya. Saya kemudian mengatakan: "Sister, God is loving you. Your heart is being attached to the divine inspiration, and I am sure you are being blessed with that". Nampak Jemie hanya menangis mendengar nasehat-nasehat saya itu.
Akhirnya, setelah memanggil dua saksi, Jemie dengan berlinang airmata secara resmi menerima Islam sebagai jalan hidupnya yang baru. Allahu Akbar!
Semoga Jemie selalu dikuatkan di jalanNya! Amin!
New York, 18 Juni 2007
Syamsi Ali
 | TAKDIR | Jun 15, '07 7:27 PM for everyone |
Takdir adalah ketentuan yang sudah diatur dan ditetapkan oleh Allah yang Maha Kuasa terhadap semua ciptaan-Nya, mulai dari makhluk terkecil hingga makhluk terbesar, mulai dari yang tampak maupun yang tidak nampak oleh mata lahiriah kita, sejak yang paling-paling baik sampai yang paling-paling buruk.
Seorang manusia sejak ia ditakdirkan untuk terlahir dan menjadi ada dia sudah memilki jalan hidup ataupun takdir yang jutaan atau mungkin malah milyran jumlahnya. Masing-masing takdir ini berbeda satu dengan yang lain tergantung dari langkah maupun sikap yang dikerjakan. Disini hukum kausalitas atau sebab-akibat mulai berlaku.
Jika saya tampar muka saya sendiri konsekwensinya saya pasti merasakan sakit akibat tamparan tersebut, demikian kira-kira contoh hukum sebab-akibat.
Pada masa pemerintahan Umar Bin Khatab, pernah suatu waktu beliau akan mengadakan kunjungan kesuatu daerah, namun tiba-tiba dia mendapat kabar dari salah seorang sahabat bahwa daerah yang akan dia kunjungi tersebut ditimpa oleh bencana penyakit kulit yang menular.
Khalifah menunda kunjungannya kedaerah tersebut hingga penyakit tersebut dapat teratasi. Sikap Khalifah Umar ini mendapatkan cukup banyak pertanyaan dari para sahabat lainnya. Pertanyaan mereka kira-kira seperti ini : Apakah tuan sudah tidak percaya kepada takdir Allah sehingga takut terkena penyakit menular tersebut ?
Khalifah Umar menjawab : "Aku bukan tidak percaya kepada takdir Allah. Manusia tidak dapat berlari dari Kausalita yang berlaku. Hanya saja manusia dapat memilih takdir mana yang akan dia tempuh. Aku menghindari takdirku dari terkena penyakit menular untuk memasuki takdirku yang lain."
Sebelumnya, jauh diwaktu Nabi sendiri masih hidup, beliau pernah menegur seorang sahabatnya yang begitu ingin bergegas mengerjakan Sholat didalam masjid sehingga begitu turun dari kuda dia langsung masuk begitu saja tanpa menghiraukan hewan peliharaannya tersebut.
Ketika ditanya Nabi mengapa orang tersebut melepaskan kudanya begitu saja tanpa merasa takut kehilangannya, orang itu menjawab bahwa dia percaya kepada Allah, dia pasrah apapun yang akan terjadi.
Perbuatannya ini tidak dibenarkan oleh Nabi. Dia menyuruh orang itu untuk terlebih dahulu menambatkan kuda sebagaimana mestinya, agar tidak lepas dan hilang baru kemudian menyerahkan kepada Allah segala ketentuan lainnya. Jika setelah kuda itu ditambatkan dalam pengertian dicarikan upaya agar tidak hilang dan lepas namun masih juga hilang nantinya .... maka itu baru takdir Allah yang pun tidak terlepas dari takdir-takdir lain yang berjalan paralel didalam kehidupan ini.
Mungkin anda tertawa jika saya mengatakan kausalita takdir anda tergantung dengan kausalita takdir saya, bagaimana bisa ? kita sendiri baru berkenalan sekarang dan inipun hanya melalui tulisan yang dijembatani oleh milis myQers atas fasilitas Internet, pesawat telepon, pulsa telepon, modem dan komputer.
Namun sekarang saya buktikan bahwa kausalita takdir masing-masing kita ini saling berkaitan (paralel) :
Coba anda bayangkan, bila saja orang yang bernama Thomas Alpha Edison, James Watt, Abraham Lincoln Bell, Bill Gates tidak pernah terlahir didunia ini atau katakanlah mereka terlahir namun tidak menjadi seperti sekarang ini ... kira-kira, apakah saat ini kita bisa saling berkenalan seperti ini melalui internet ? Apakah kira-kira peradaban kita sekarang ini sama seperti yang kita jalani saat ini ?
Jawabnya tidak ! Oleh karena mereka ada dan oleh karena hasil kreatifitas mereka maka dunia bisa menjadi seperti ini, kita tidak perlu lagi berkirim surat melalui burung merpati, kita tidak juga perlu lagi mempelajari ilmu telepati karena kehadiran pesawat telepon yang membuat komunikasi bisa terjadi antara 2 orang atau lebih dari tempat yang sangat berjauhan sekalipun, bahkan kita tidak perlu repot memikirkan bagaimana caranya bisa menerima telepon saat sedang berada dijalan raya sebab handphone sudah pula terlahir.
Kita tidak juga bingung membuat sistem pengarsipan manual yang menumpuk kertas sebab sudah ada komputer dan sudah ada pula bermacam aplikasi, bahasa pemrograman dan sarana-sarana penunjang lainnya diciptakan orang.
Bahkan untuk belajar agamapun kita tidak perlu jauh-jauh datang ketanah Arab hanya untuk mempelajari Tafsir al-Mizan, Tafsir at-Thabari, kitab-kitab Hadis dan sebagainya dan seterusnya sebab dengan adanya komputer dan Internet maka kita bisa mempelajarinya bahkan sambil menonton televisi dirumah ditemani secangkir kopi susu dan di-iringi musi lembut Diego Modena lewat Imploranya.
Contoh lain, bila kita menebangi hutan terus-terusan maka karena sebab itu akan mengakibatkan terjadi banjir, tanah longsor dan sebagainya yang bisa saja merugikan orang lain. Begitu pula jika kita ingin anak dan istri kita sholeh, ya harus ada proses pembelajaran bagi mereka dan harus pula ada contoh dari orang yang paling dekat dengan mereka.
Kesimpulannya, dengan sebab takdir orang lain maka kitapun bisa menentukan takdir pada diri kita masing-masing, mau apa, mau jadi bagaimana diri kita, mau sebejat apa atau mau seshaleh apa, mau berjalan keneraka atau berjalan kesurga dan lain sebagainya.
Ini semua membuktikan bahwa hidup adalah suatu rangkaian yang saling berhubungan sampai pada titik paling kecil sekalipun, baik disadari maupun tidak disadari.
Karenanya Allah berfirman :
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. - Qs. 13 ar-Ra'd 11
Lalu pertanyaan lainnya sekarang : Seberapa jauh intervensi Allah terhadap kebebasan manusia dalam menentukan sikap dan hidupnya ?
Jawaban dari pertanyaan ini akan kembali pada sejauh mana kausalitas pada diri kita telah kita maksimalkan kearah yang positip, menuju kreativitas yang menciptakan hubungan sebab-akibat bagi diri dan sejarah orang lain.
Allah tidak menginginkan seseorang menjadi jahat, bukti bahwa Dia sudah mengutus banyak Nabi dan Rasul-Nya, sudah mengutus para mujahid-mujahid yang memberikan pencerahan disetiap jaman dan tempat sebagai jalan (sebab-akibat) orang lain untuk berbuat baik dan meninggalkan kejahatan.
Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. -Qs. al-Baqarah 2:276 Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. -Qs. al-An'am 6:12
Akan halnya seorang penjahat tetap menjadi penjahat, seorang penzinah tetap menjadi penzinah, seorang pengkhianat tetap menjadi pengkhianat itu bukan karena Allah mentakdirkan dirinya harus seperti itu, sebab sekali lagi ini adalah akibat dari sebab yang dia lakukan sendiri :
Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. -Qs. ali Imran 3:117
Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipat gandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. -Qs. an-Nisa' 4:40
Semuanya berlaku sama,
Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (kehendak Allah [nilai-nilai positip]), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. -Qs. 17 al-Israa' :15
Kita semua dilahirkan dengan membawa sifat baik dan buruk, ini fitrah (sesuatu yang natural) sebagai bekal dan bukti kemanusiawian kita, saat kita hanya dibekali dengan sifat yang baik saja maka ini bukan fitrah dan tentu kita bukan manusia, begitupula bila kita hanya dibekali sifat buruk saja maka itupun bukan fitrah.
Fitrahnya kita ya seperti ini, tinggal lagi mau bagaimana kita memprogram fitrah yang ada.
Jika anda yakin hidup anda akan happy ending maka berupayalah agar itu bisa menjadi terwujud, kejar dan cari takdir tersebut dari sekian juta atau sekian milyar takdir-takdir anda yang ada di Lauhful Mahfudz.
Allah memang merencanakan semua makhluk-Nya berakhir bahagia, akan tetapi Allah memberikan kebebasan bagi manusia untuk tetap menentukan model bahagia seperti apa dan akhir yang bagaimana yang dia inginkan.
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. -Qs. al-Baqarah 2:185
Rencana Allah tidak berjalan dengan mengabaikan hukum-hukum yang pun sudah ditetapkan-Nya sendiri.
Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. -Qs. 33:62
Kita berdoa dan berusaha dalam hidup ini agar semua modul-modul dari semua sintaksis pemrograman Allah yang teramat sangkat kompleks ini berjalan dengan baik, kita berdoa agar Allah memberikan bantuan (mengintervensi) atas semua usaha yang kita lakukan dengan memberikan jalur link pada hukum sebab-akibat yang baik, sholeh dan positip.
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.Tiap- tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya. -Qs. 52 ath-Thuur :21
Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. -Qs. 2 al-Baqarah: 186
Jika saya boleh menganalogikan dengan dunia saya sehari-hari,maka orang yang mengabaikan doa adalah orang yang tidak mengerti proses hukum yang berlaku, dia terjebak dalam logika pengulangan (looping) If ... Then...Else yang tidak berakhir dengan kata End If, bagaikan seorang Web Master yang setelah selesai membangun sebuah website yang bagus tetapi dia bingung harus membuat link kesitus yang mana sebab dia tidak menjalin hubungan komunikasi dan kerjasama dengan Web Master lain dan dia akan berkutat dalam situsnya sendiri hingga siapapun yang berkunjung kesana pasti akan menemukan kebosanan saja, itulah makanya Allah menyebut orang yang demikian sebagai orang yang sombong.
Dan berbuat baiklah (lakukanlah kerjasama dan jalinlah komunikasi yang harmonis) kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan orang-orang dalam tatahukummu Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. -Qs. an-Nisa' 4:36
Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri". -Qs. an-Naml 27:31
Wassalam. Armansyah
Tauhid
Persiapan menghadapi maut
Alam kubur adalah suatu alam yang sukar dibayangkan dengan akal manusia. Akan tetapi alam ini dapat dilihat dengan mata hati setelah dipimpin dengan ilmu berlandaskan wahyu, iman dan keyakinan. Salah satu keunikan alam ini ialah ia mampu bertutur sungguhpun suaranya tdak kedengaran manusia. Perkara ini hanyalah dimengertikan oleh hati yang beriman, kerana hanya menerusi imanlah, terbentuknya keyakinan. Allah s.w.t telah menciptakan lidah (lisan) kepada kubur dan bertuturlah kubur dengan lidahnya itu katanya :
Hadith riwayat Hannad bin Sariq dari Abdillah bin Ubaid bin Umair, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud :
"Wahai anak Adam, bagaimanakah kamu hidup di dunia boleh melupakan aku, tidakkah engkau tahu bahawa aku adalah tempat kediaman yang sepi dan keseorangan, tempat yang dipenuhi ulat dan kala"
Sewajarnya kita tidak harus melupakan kubur kerana manusia tidak dapat lari daripada menemui ajalnya, seperti firman Allah,
"Dan datanglah Sakratul Maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya"
Kubur mengeluh terhadap sikap manusia yang tidak sedar bahawa mereka bakal keseorangan dalam kubur. Manusia dianjur membawa teman setia mereka (amal yang soleh di samping iman yang sejahtera). Manusia harus sedar, tatkala di saat huru-hara dan cemas di dalam kubur, mereka amat memerlukan teman yang dapat memberikan pertolongan. Kubur juga merasa sedih apabila manusia melupakannya. Hadith Nabi s.a.w yang disampaikan oleh Malik dari Abdillah bin Umar :
"Bahawa Kubur telah menangis sambil berkata dalam tangisannya. (Tidakkah kamu tahu) bahawa aku adalah rumah yang sunyi gelap-gelita, rumah yang keseorangan dan rumah tempat ulat-ulat (yang bakal membaham daging-daging manusia)"
Walaupun kubur menangis mengenangkan nasib manusia, namun sayangnya. Manusia sendiri terus ketawa seolah-olah mereka tidak akan bertemu dengan kubur. Alangkah bahagianya jika manusia sentiasa mengingati kubur yang tidak pernah melupakan manusia. Ketika jenazah anak cucu Adam dibaringkan di dalam kubur, lantas kubur bertanya :
"Wahai anak cucu Adam. Tidakah kamu tahu bahawa aku adalah tempat manusia akan keseorangan tanpa teman. Tidakkah kamu tahu bahawa aku adalah rumah yang gelap-gelita, dan tidakkah kamu tahu bahawa aku adalah rumah yang haq (iaitu rumah yang pasti dihuni oleh keturunan Adam). Wahai anak cucu Adam, apakah yang telah memperdayakan engkau sehingga melupakan aku?"
Kalaulah manusia sentiasa sedar bahawa kubur adalah tempat yang gelap, tentulah mereka datang dengan membawa obor dari amal soleh mereka yang sentiasa menyinar. Malangnya, ramai manusia yang datang dengan tangan kosong tanpa persediaan.
Tatkala berada dalam kubur, datang dua malaikat, iaitu Munkar dan Nankir yang akan berada di sisi mayat yang terbujur di dalam kubur. Munkar dan Nankir akan mengangkat mayat itu dari perbaringan dan meletakkannya dalam keadaan duduk. Malaikat Munkar dan Nankir dengan suara bagaikan halilintar memulakan soalan terhadap ahli kubur. Siapakah Tuhan Kamu?, Siapakah nabimu?, Apakah agamamu? Apakah kiblatmu?... Kemampuan ahli kubur untuk menjawab terpulang kepada sejauh mana mereka menghayati empat perkara asas itu. Ada yang mendapat rahmat Allah mampu menjawab dengan mudah (Alhamdulillah) tetapi ramai yang kecudang dan gagal memberi sebarang jawapan. Di masa manusia ditanya tentang ketuhanan, ramai yang tahu bahawa Allah tuhan mereka, sungguhpun soalan ini dikemukakan kepada orang kafir.
"Dan sesunggunya jika kamu tanyakan kepada mereka, Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? Tentu mereka akan menjawab : Allah"
(Surah Al-Ankabut : 61) Namun demikian, tidak semua manusia yang tahu bahawa Allah itu Tuhan, akan bertuhankan Allah s.w.t, sebagaimana orang kafir tahu bahawa yang menjadikan langit dan bumi itu ialah Allah, justeru mereka tidak beriman dengan apa yang mereka tahu. Sebaliknya, mereka mengambil tuhan-tuhan yang lain, ada yang menjadikan nafsu mereka sebagai tuhan mereka. Firman Allah :
"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya"
(Surah Al-Furqan : 43) Tidak kurang pula manusia yang hanya mengaku beriman dengan Allah tetapi hanya menyembah Allah dalam sembahyang dan di luar sembahyang, mereka tidak mematuhi Allah, enggan berpegang dan melaksanakan hukum Allah s.w.t malah mereka meragui kupayaan hukum dan undang-undang Alah s.w.t. Mereka berdalih dengan pelbagai alasan kononnya masa belum sesuai, lebih-lebih lagi di dalam masyarakat majmuk. Dalam keadaan penuh keraguan ini, tidak mudahlah baginya menjawab persoalan Munkar dan Nankir.
Tidak juga mudah untuk menjawab soalan 'rasul' jika kita tidak menjadi umat Muhammad s.a.w yang patuh dan melaksanakan segala ajarannya dan mengikuti sunnahnya. Demikian pula soal kiblat, Semua orang tahu bahawa kiblat orang Islam ialah Ka'aba tetapi mengapa ramai di antara kita menjadi hubungan sesama manusia berkiblatkan barat. Kesemua soalan yang dikemukakan oleh malaikat Munkar dan Nankir itu laksana soalan ujian kepada apa yang telah tejadi keyakinan dan dasar hidup mereka semasa di dunia. Di kalangan ahli kubur yang mendapat taufiq Allah s.w.t serta ditetapkan hatinya dengan kalimat Toiyyibah iaitu "Lailahaillalah, Muhammadarasulullah" Mereka bukan hanya dapat menjawab soalan Munkar dan Nankir malah dapat menyoal pula kepada kedua-dua malaikat samada mereka adalah di kalangan ulama yang terpilih oleh Allah s.w.t disebabkan keimanan dan ketakwaannya yang membolehkan mereka benar-benar makrifat akan Allah s.w.t. Mereka ikhlas melakukan segala perintah Allah. Keadaan bagi mereka di kubur bagai berada di bawah sebuah kubah yang besar. Sebuah ruang yang terbuka luas dari kuburnya dan menghala ke arah syurga. Ketika itu dihamparkan pula di tempat dia bersemadi itu terdiri dari sutera-sutera syurga serta dengan bauan yang semerbak wangi di tambah pula kenikmatannya dengan hembusan bayu lembut dari syurga yang nyaman dan menyegarkan. Segala kesenangan yang dinikmati menjadikan mereka berada dalam keadaa yang sungguh nyaman dan mereka seringkali akan bertanya kepada Allah s.w.t, bilakah Qiamat akan datang?
Golongan terpilih selepas ulama ialah orang-orang yang tergolong dalam kategori "Al-Mukmin al Amil", sungguhpun mereka tidak mempunyai amal yang banyak seperti ulama tadi. Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang akan menjadikan amal soleh mereka mejadi seorang yang paling disayangi dan dihormati ketika di dunia dulu untuk menjadi temannya sepanjang masa di dalam kubur. Alangkah bahagianya bagi seseorang yang sedang kesepian duduk berseorangan, tiba-tiba datang beberapa teman dari kalangan saudara mara atau sahabat handai yang dikasihi mendampinginya. Sebelum ketibaan mereka, telah sampai bau-bauan semerbak wangi.
Bagi mukmin Ashi (mukmin yang melakukan maksiat) segala perbuatan maksiat mereka akan dijelmakan oleh Allah s.w.t menjadi seekor Khinzir atau binatang buas. Segala kejahatan akan menjadi bala kepada mereka; menambahkan lagi azab sengsara di dalam kubur, di samping azab yang didatangkan oleh malaikat disebabkan kegagalan untuk menjawab pelbagai soalan yang dikemukakan.
Mengambil Iktibar
Allah s.w.t melayani manusia setimpal dengan amalnya. Bagi mukmin yang bertaqwa, mereka akan mendapat layanan yang sangat istimewa. Adapun terhadap yang fujjar dan kuffar, mereka akan ditimpa azab yang tidak dapat dibayangkan oleh fikiran manusia kerana azab ini tidak pernah disaksikan atau berlaku di atas muka bumi. Dalam keadaan menanggung azab yang pedih, tiba-tiba Allah s.w.t memerintahkan agar dibuka pintu yang menghala ke lorong yang menuju neraka. Segala bau busuk dan bahang neraka meresap masuk kee dalam kubur mereka. Malaikat akan datang membawa bunga rampai api neraka dan menaburkan ke atas kafir dan fujjar yang berbaring. Sebelum datang semua ini, Allah s.w.t mendatangkan pula sepasang pakaian daripada minyak yang mendidih, dibalutkan pakaian tersebut kepada mereka.
Ingatlah sungguhpun Allah menurunkan pelbagai bala seprti gempa bumi, ribut taufan dan lain-lain, namun semua ini hanya secebis daripada bala Allah yang Maha Perkasa dengan tujuan agar manusia berfikir dan insaf. Dengan berbuat demikian, nescaya akan menambahkan lagi keyakinan dan keimanan terhadap kekuasaan Allah s.w.t.
Selain malaikat Munkar dan Nankir, akan datang sekumpulan malaikat yang buta dan pekak khas untuk memberi azab yang pedih. Di tangan mereka ada tukul besi yang jika dipalukan kepada gunung batu, nescaya akan berkecai dengan sekali paluan. Allah tidak mengkehendaki manusia mendengar paluan malaikat kerana tidak ada nilai disisi Allah jika kita hanya meniggalkan maksiat semata-mata kerana gerun. Sebaliknya, kemimanan yang dikehendaki berasaskan Taqwa kepada Allah, sebaliknya Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang mengutus Rasul-rasul dan menyampaikan perkara baik dan buruk mengenai akhirat.
Kubur tempat roh menerima hukuman. Oleh itu, wajiblah seseorang itu beriman dengan perkara yang akan dirasai oleh roh. Roh seseorang akan senang dan riang apabila ditunjukkan segala amal perbuatannya yang soleh dan roh seseorang itu akan merasa dukacita dan bersedih hati apabila melihat amalannya yang jahat. *tripod.com*
Suatu hari, Imam Al-Ghazali bertanya , pertama “Apa yang paling dekat dengan kita di dunia ?” . Murid-muridnya ada yang menjawab .Orang Tua, Guru, dan kerabatnya,
Imam Ghazali menjelaskan semua jawaban itui benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “Mati” , sebab itu sudah janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Al-Amran :185).
Lalu Imam Ghazali meneruskan pertanyaan kedua , “
“Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini ?
Murid-murid nya ada yang menjawab negar, bulan, matahari dan bintang.
Lalu Imam Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar, tapi yang paling benar adalah “Masa Lalu”
Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak mampu kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama.
Lalu Imam Ghazali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga
“Apa yang paling besar di dunia ini ?”
Murid-muridnya menjawab gunung, bumi dan matahari, semua jawaban itu benar kata Imam Ghazali . Tapi yang paling besar dari yang ada didunia ini adalah Nafsu”. (Al-A’raf :179) . Mak kita harus menjaga hati dengan nafsu kita. Jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
Pertanyaan keempat adalah , “Apakah yang paling berat didunia ini ?
Ada yang menjawab baja,besi,dan gajah.
Semua jawaban tersebut hampir benar, kata Imam Ghazali, tapi yang paling berat adalah “Memegang AMANAH” (Al-Ahzab). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat, semua tidak mampu memikul tanggung jawab setelah Allah meminta mereka untuk menjadi khalifah didunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak dari manusia masuk keneraka karena ia tidak mampu memegang amanahnya.
Pertanyaan yang kelima ditanya oleh Imam Al-Ghazali adalah , “Apa yang paling ringan di dunia ini ?
Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan, semua itu benar kata Imam Ghazali, tetapi yang paling ringan di dunia ini adalah
“meninggalkanSolat”. Disebabkan pekerjaan kita tinggalkan solat, meeting dan sebagainya.
Kemudian pertanyaan yang keenam dan terakhir ditanya olah Al-Ghazali adalah , “Apakah yang paling tajam di dunia ini ?
Murid-muridnya menjawab dengan serentak , pedang ……”
Benar kata Imam Ghazali, tetapi yang paling tajam adalah “Lidah Manusia”, ia boleh menyakiti hati dan melukai perasaan saudara sendiri.
*dari seorang milis*
 New York, 26 Januari 2007 13:58 Majalah baru bernama Muslim Girl telah diluncurkan bulan ini, yang memberi kesempatan bagi lebih dari 400.000 remaja muslimah di Amerika Serikat menjadi gadis sampul majalah itu. "Gadis-gadis sangat ingin kisah mereka disiarkan," kata Ausma Khan, pemimpin redaksi Majalah Muslim Girl, dalam sebuah wawancara. "Ada informasi untuk setiap kelompok. Masyarakat kami tentu saja tak terlayani," katanya. Majalah tersebut telah menerbitkan 25.000 exemplar, dan berharap sirkulasinya akan empat kali lipat dalam dua tahun. Demikian laporan Islamonline.net. Wardah Chaudhary, muslimah berusia 16 tahun dari Tulsa, Oklahoma, menjadi gadis sampul pertama majalah itu. Mereka yang tertarik untuk menjadi gadis sampul terbitan mendatang majalah tersebut dapat mengisi formulir melalui situs internet majalah itu, http://www.muslimgirlmagazine.com."Satu hal yang pasti adalah saya tak akan ketinggalan apa pun, hanya karena saya memakai hijab," kata Chaudhary --covergirl majalah tersebut, dengan tutup kepala merah dan putih, dihiasi bintang merah, putih dan biru, di pipi kanannya-- dalam ceritanya yang merujuk kepada gaya hijabnya. "Untuk semua gadis yang membaca ini, saya ingin mereka mengetahui agar bangga mengenai siapa anda sebenarnya." Edisi pertama majalah tersebut disalurkan di daerah yang memiliki banyak warga muslim, termasuk New York, Jersey City, New Jersey, Dearborn, Michigan, Chicago, Los Angeles, dan Texas. Setelah itu, majalah ini akan dipasarkan di wilayah Ontario dan Toronto, Kanada. Demikian dijelaskan Ausma Khan, seorang pengacara sekaligus penulis. Majalah dua bulanan yang dicetak pada kertas mengilap itu diluncurkan bulan ini untuk memberi 400.000 remaja Muslimah Amerika perspektif hidup dan sangat relevan dengan kehidupan kontemporer. Demikian isi pengantar dari penerbit majalah itu. Jajak pendapat yang dilakukan untuk majalah tersebut menunjukkan, kaum muslimah suka menonton televisi, membaca majalah remaja, surfing (menjelajah) Internet, seperti YouTube.com, dan menikmati permainan video. Gadis remaja juga suka berbelanja dan jalan-jalan. Studi itu juga menyoroti sebagian perbedaan; misalnya, mereka bersosialisasi di IslamiCity dan melaksanakan hobi utama mereka, mempelajari Al-Qur`an. Ausma Khan, yang bergelar PhD dan menjadi penulis, pengacara hak asasi manusia dan pegiat, sangat menyukai konsep itu sehingga ia meninggalkan posisi mengajar di Northwestern University untuk menjadi pemimpin redaksi. "Kebanyakan yang mewakili umat muslim di media bersifat negatif," katanya. "Muslim Girl menantang persepsi itu dengan menceritakan kisa remaja muslim yang bangga menjadi warga negara Amerika dan memberi sumbangan bagi masyarakat Amerika dalam banyak cara yang positif. Ini adalah peluang bagi pilihan mereka untuk didengar. Mandat editorial kami ialah meringankan, merayakan dan memberi mereka ilham." Majalah Muslim Girl menjelaskan kembali wajah kaum muda muslim di Amerika. Isinya yang inovatif memperlihatkan gadis remaja yang sama bangganya dengan identitas mereka sebagai orang Amerika dan muslimah, yang pada saat bersamaan menjauhkan diri dari konflik. Ausma Khan menambahkan, "Kami akan memperlihatkan pemain basket berhijab bersama artis dan perancang mode kontemporer. Kami ingin menghilangkan pendapat bahwa remaja muslim hanya merasa nyaman dengan satu model tertentu. Tertutup atau tak tertutup, remaja muslimah ikut tanpa ragu dalam olahraga, seni, perjalanan internasional, dan masjid lokal mereka." Majalah Muslim Girl diluncurkan dengan target sirkulasi 50.000 eksemplar setiap terbit, pada tahun pertama. Diharapkan, akan berkembang jadi 100.000 dalam dua tahun. Majalah tersebut diterbitkan oleh peraih hadiah execuGo Media di Toronto, Kanada, dan disebarkan di seluruh dunia oleh RCS di Los Angles, California. Muslim Girl dijual dengan harga eceran 4,95 dolar AS. Harga berlangganan tahunan 19,99 dolar AS. [TMA, Ant] 
Kesolehan seseorang lelaki menjadi idaman setiap isteri dan tidak dapat dinilai dari segi lahiriah semata-mata, tentu ada beberapa kriteria Lelaki soleh.
Lelaki soleh menurut Abu Mohd Jibril Abdul Rahman sesuai dengan yang dimaksudkan di dalam Al Qur’an dan Al Hadis.
1. Sentiasa taat kepada Allah swt dan Rasullulah saw. 2. Jihad Fisabilillah adalah matlamat dan program hudupnya. 3. Mati syahid adalah cita cita hidup yang tertinggi. 4. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah swt. 5. Ikhlas dalam beramal. 6. Akhirat manjadi tujuan utama hidupnya. 7. Sangat takut kepada ujian Allah swt. dan ancamannya. 8. Selalu memohon ampun atas segala dosa-dosanya. 9. Zuhud dengan dunia tetapi tidak meninggalkannya. 10. Solat malam menjadi kebiasaannya. 11. Tawakal penuh kepada Allah taala dan tidak mengeluh kecuali kepada Allah swt 12. Selalu berinfaq dalam keadaan lapang maupun sempit. 13. Menerapkan nilai kasih sayang sesama mukmin dan ukhwah diantara mereka. 14. Sangat kuat amar maaruf dan nahi munkarnya. 15. Sangat kuat memegang amanah, janji dan kerahasiaan. 16. Pemaaf dan lapang dada dalam menghadapi kebodohan manusia, senantiasa saling koreksi sesama ikhwan dan tawadhu penuh kepada Allah swt. 17. kasih sayang dan penuh pengertian kepada keluarga.
Selain daripada ciri-ciri diatas, orang orang yang soleh juga merupakan insan insan yang senantiasa mendapat ujian dan cobaan daripada Allah swt. Para nabi nabi dan orang orang yang mulia Mereka menghadapi segala ujian tersebut dengan hati yang tabah dan tetap teguh dalam keimanan serta pendirian. Mereka tidak mudah menyerah kalah dari keganasan dan tekanan musuh.
Tugas tugas dan kewajiban Lelaki Soleh :
1. Mencari nafkah ( belanja hidup) 2. Berjihad Fisabilillah. 3. Melindungi dan membela kaum yang lemah dan tertindas. 4. Memimpin, mendidik dan berlaku adil terhadap isteri.
Berdasarkan kriteria di atas maka jelaslah bahwa suami yang soleh tidak dapat memberikan sebagian besar dari kehendak duniawi isteri. Isteri tidak perlu mengeluh sebaliknya bersyukur karena doa untuk mendapat suami yang soleh mungkin sudah dikabulkan Allah. Ingatlah, Isteri -isteri Rasulullah SAW sendiri pernah ditawarkan kesenangan dunia atau akhirat. Maka akhirnya isteri baginda memilih akhirat. Wanita seharusnya juga bermuhasabah apakah layak untuk mengimpikan Suami semulia Saidina Ali Karamullah Wajhah padahal Wanita tidak setaat Saidatina Fatimah Az-Zahrah..?
Menurut perspektif Islam, wanita adalah pelengkap kepada lelaki, sekali gus memelihara keseimbangan ciptaan Allah s.w.t. Malah Rasulullah s.a.w memartabatkan kaum wanita pada kaca mata Islam sebagai perhiasan dunia yang paling indah dan unik. Ini sebagaimana sabda Baginda bermaksud: "Dunia ini penuh perhiasan dan perhiasan yang paling indah ialah wanita yang solehah." - (Riwayat Muslim)
Hadis ini jelas menunjukkan betapa Islam memandang tinggi kedudukan wanita dalam kehidupan global. Jika ditelusuri dalam lembaran al- Quran, wanita digambarkan dengan tiga fungsi penting.
1. Wanita dianggap sebagai fitnah dan musuh andainya dia tidak dididik dan diasuh serta dibentuk menurut acuan Islam.
2. Wanita juga ujian bagi seseorang lelaki dalam menerajui bahtera kehidupan ke arah kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.
3. Wanita adalah anugerah Ilahi yang istimewa kepada lelaki yang mendambakan kemesraan dan kebahagiaan hidup. Sejarah Islam sebenarnya melahirkan ratusan personaliti wanita terbilang yang menjadi teladan kepada warga Muslimah dewasa ini. Mereka adalah wanita contoh yang menempa tinta emas yang mewarnai sejarah kegemilangan dan keunggulan Islam. Sehubungan itu, Baginda Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:
"Ada empat wanita mulia yang juga penghulu segala wanita di dunia; mereka itu ialah Asiah binti Muzahim, isteri Firaun; Maryam binti Imran, ibunda Isa; Khadijah binti Khuwailid, isteri Rasulullah saw dan Fatimah binti Muhammad, puteri kesayangan Baginda." - (Riwayat Bukhari)
Asiah adalah simbol teladan bagi wanita beriman yang tetap mempertahankan keimanannya kepada Allah, meskipun hidup sebumbung bersama suaminya,Firaun yang tidak beriman kepada Allah.
Maryam pula adalah simbol wanita dalam ibadahnya dan ketinggian darjat ketakwaannya kepada Allah serta mampu memelihara kesucian diri dan kehormatannya ketika mengabdikan dirinya kepada Allah.
Manakala Khadijah pula adalah simbol kepada isteri yang setia tanpa mengenal penat lelah mendampingi suaminya menegakkan panji-panji kebenaran Islam, berkorban jiwa raga dan segala harta bendanya serta rela menanggung pelbagai risiko dan cabaran dalam menyebarkan risalah Islam yang diamanahkan pada bahu Rasulullah.
Akhirnya, Fatimah pula adalah simbol pelbagai dimensi wanita yang solehah; anak yang soleh dan taat di hadapan ayahandanya; isteri yang setia dan taat di hadapan suaminya serta ibu yang bijaksana di hadapan putera puterinya. Dialah pemuka segala wanita dan juga seorang wanita mithali yang setiap detik kehidupan yang dilaluinya, sewajarnya dijadikan ikutan Muslimah.
Demikianlah antara beberapa profil wanita Muslimah contoh yang mewarnai pentas kehidupan dengan ketenangan, kemesraan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Islam menganjurkan setiap Muslim yang bakal melangkah alam perkahwinan agar berhati-hati memilih calon isteri.
Kriteria calon isteri penting dalam kehidupan berkeluarga kerana ia adalah antara ciri kesolehan isteri yang dituntut Islam, di samping bakal menjamin kerukunan dan kebahagiaan rumah tangga.
Dalam hal ini, Rasulullah s.a.w bersabda maksudnya: "Janganlah kamu nikahi wanita kerana kecantikannya, kelak kecantikannya itu akan membinasakannya; janganlah kamu nikahi wanita kerana hartanya, boleh jadi hartanya akan menyebabkan kederhakaanmu; sebaliknya nikahilah wanita yang beragama. Sesungguhnya wanita yang tidak berhidung dan tuli tetapi beragama, itu adalah lebih baik bagimu." - (Riwayat Abdullah ibn Humaid).
Jelas di sini, bahawa aspek keagamaan dalam diri seseorang isteri adalah penentu hala tuju sesebuah rumah tangga yang dibina dan dibentuk.
Ini kerana agamanya yang bertapak kukuh dalam jiwa sanubarinya, dia pasti akan taat kepada suaminya pada semua perkara yang tidak bertentangan dengan perintah Allah dan tidak mendatangkan mudarat kepadanya.
Isteri yang solehah juga akan bersifat amanah terhadap harta benda suaminya, di samping menjaga maruahnya. Sewaktu ketiadaan suaminya, seorang isteri solehah memelihara dirinya dan maruahnya seperti tidak boleh keluar rumah tanpa izinnya, tidak boleh menerima tetamu yang tidak dikenali dan sebagainya.
Ketaatan dan sifat beramanah seorang isteri solehah ini banyak dipengaruhi oleh firman Allah yang bermaksud: "...perempuan yang solehah mestilah taat dan memelihara kehormatan dirinya ketika ketiadaan suaminya dengan perlindungan Allah..." - (Surah an-Nisa: 34)
Malah isteri yang solehah ingatannya sentiasa segar dengan pesanan Baginda yang bermaksud: "Jika seseorang wanita menunaikan solat lima waktu, berpuasa sebulan Ramadan, memelihara kehormatannya, mentaati suaminya, nescaya dia dapat masuk ke mana-mana saja pintu syurga menurut kehendaknya." - (Riwayat Imam Ahmad)
Isteri solehah juga adalah isteri yang sentiasa menyempurnakan keperluan suaminya, di samping memelihara keredaannya pada setiap masa dan keadaan. Ini kerana keredaan suami adalah anak kunci utama yang melayakkannya menjadi penghuni syurga penuh kenikmatan.
Sabda Rasulullah bermaksud: "Mana-mana isteri yang meninggal dunia, sedangkan suaminya reda kepadanya, nescaya isterinya akan masuk syurga." - (Riwayat Al-Hakim dan Tirmizi)
Apa yang paling penting ialah isteri solehah adalah pendidik dan pengasuh terbaik kepada anaknya yang juga penyejuk hati ibu bapa dan saham akhirat yang pahalanya berkekalan, biarpun ibu bapanya lama meninggal dunia. Dengan agamanya itu, seseorang ibu akan mewariskan segala ilmu agamanya kepada anaknya agar mereka kelak akan menjadi anak soleh dan taat, bukan saja kepada ibu bapa, bahkan taat kepada Allah.
Agama inilah ramuan terbaik yang boleh melenturkan peribadi anak, perhiasan akhlak terpuji, mengisi minda dan hati anak dengan keimanan dan ketakwaan serta membimbing kehidupan ke arah keredaan Ilahi.
Demikianlah betapa besarnya fungsi seorang wanita yang bertindak sekali gus sebagai isteri dan ibu solehah dalam sesebuah institusi keluarga. Justeru, Allah menganugerahkan ganjaran syurga bagi wanita solehah yang beriman dan benar-benar melaksanakan tanggungjawabnya sebagai seorang isteri dan ibu dalam kehidupan sehariannya.
Akhirnya, Rasulullah s.a.w pernah bersabda, maksudnya: "Sebaik-baik wanita itu ialah wanita yang melahirkan anak, yang penyayang, yang memelihara kehormatannya, yang mulia pada kaca mata ahli keluarganya, yang menghormati suaminya, menghiaskan dirinya hanya untuk suaminya tercinta, memelihara diri daripada pandangan orang lain, yang mendengar kata-kata suaminya dan mentaati segala perintahnya. Apabila bersama suaminya, dia memberikan apa saja yang diperlukan suaminya dan dia tidak pula menolak ajakannya serta tidak merendah- rendahkan atau menghina kedudukan suaminya di hadapan orang lain."
*students.washington.edu*
Islam Liberal Islam Ya Islam, Islam Kok Liberal?
Mengapa umat Islam tertinggal di berbagai bidang? Pertanyaan itu menggema dari Gedung Gema Insani, Depok, Jawa Barat, Sabtu siang pekan lalu. "Penyebabnya, peradaban Islam mundur," tutur Hamid Fahmy Zarkasyi dalam acara tasyakur dan pidato ilmiah atas kelulusan doktornya dalam bidang pemikiran Islam di International Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) itu.
Dalam orasi selama dua jam, dengan bersemangat Hamid mengajak umat Islam membangun kembali peradaban Islam. "Kita membangun peradaban berdasarkan nilai-nilai Islami," paparnya. Karena itu, Hamid mengkritik habis paham rasionalitas, sekularisasi, dan liberal. Bila rasionalitas meletakkan akal pikiran di atas segalanya, sekularisasi memisahkan agama dengan urusan negara, maka liberal adalah paham yang berpikiran bebas.
Menurut Hamid, Islam punya pengertian ketundukan, sementara liberal itu bebas-lepas. "Jadi, Islam ya Islam, Islam kok liberal?" katanya, disambut tawa sekitar 100 hadirin. Dalam pandangan Hamid, ketika kaum liberal itu kebablasan, mereka tak bisa kembali ke teks. "Karena mereka memang tidak punya teks, sementara umat Islam itu punya teks, Al-Quran dan hadis," ujarnya.
Kritik Hamid itu adalah dalam rangka meluruskan pikiran-pikiran yang dinilainya bengkok. Adapun kunci membangun peradaban adalah memajukan ilmu pengetahuan, karena peradaban redup akibat melemahnya penguasaan ilmu pengetahuan. "Membangun ekonomi umat itu penting, tapi membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuan mesti seiring," ia menandaskan.
Dalam pandangan cendekiawan muslim Yudi Latif, jika hendak membangun peradaban Islam, kita mesti kembali pada watak dasar. "Peradaban Islam itu punya sifat egaliter dan terbuka," tuturnya. "Kita boleh menerima apa saja yang baik dan dari mana saja asal tetap dalam koridor Islam," katanya. Menurut Yudi, kemajuan Barat yang dicapai sekarang ini tak bisa lepas dari "titipan" Islam. "Karena Islam lebih dulu maju dari Barat," paparnya. "Dan, kemajuan peradaban Islam waktu itu juga terbuka," ia menambahkan.
Lepas dari kontroversi yang ada, di Indonesia, proyek membangun peradaban itu sedang berjalan. Ormas-ormas seperti Muhammadiyah, NU, Persis, dan Al-Irsyad sedang dan telah memasuki pintu-pintu peradaban. Tokoh-tokoh seperti Nurcholish Madjid, Abdullah "Aa Gym" Gymnastiar, dan Arifin Ilham, dengan cara dan metode yang ditempuhnya, juga ikut mengisi saf-saf peradaban.
Begitu pula Hamid Fahmy, yang pada 29 September lalu berhasil mempertahankan disertasinya berjudul "Al-Ghazzali's Concept of Causality" di ISTAC dan IIUM, Malaysia. Hamid, 48 tahun, adalah putra kesembilan KH Imam Zarkasyi, satu dari tiga pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo, Jawa Timur. Lewat majalah ilmiah Islamia dan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (Insists), Jakarta, Hamid, bersama teman-temannya juga sedang mengisi saf-saf berikutnya.
Melalui lembaga Insists yang lahir pada Maret 2003 dan majalah Islamia, Hamid dan kawan-kawan telah turut mewarnai dunia pemikiran Islam di Indonesia. Hamid bersama Adian Husaini, Adnin Armas, Syamsuddin Arif, dan Ugi Suharto telah ikut memberi warna pemikiran khas dan aktif mempromosikan gagasan pembangunan peradaban berbasis tradisi keilmuan Islam. Insists telah menyelenggarakan ratusan lokakarya, diskusi, dan seminar di bidang pemikiran Islam untuk kalangan pimpinan pesantren, dosen, mahasiswa, profesional, ustad, serta mubalig.
Tapi, tentu saja, komitmen membangun peradaban Islam perlu kerja keras semua pihak, baik birokrat, teknokrat, cendekiawan, maupun pengusaha. Keistikamahan mereka akan diuji oleh waktu.
Herry Mohammad [Agama, Gatra Nomor 6 Beredar Kamis, 21 Desember 2006]
Kakbah, Projek Ikhlas Nabi Ibrahim & Ismail NABI Ibrahim a.s. mendapat projek besar dan penting dari Allah SWT, yaitu merenovasi Baitullah. Bersama anaknya, Ismail, Ibrahim menerima tugas Allah SWT dengan ikhlas dan syukur karena projek itu bukan sembarang projek, melainkan projek berskala dunia dan akhirat, untuk kekhusyukan orang-orang yang tawaf, iktikaf, ruku, dan sujud (Q.S. Al-Baqarah:125).
Nabi Ibrahim dan Ismail bekerja sebaik-baik kerja. Meski mereka bapak dan anak, tidak ada cerita korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam pelaksanaannya, tidak ada komisi atau uang pelicin. Semua berjalan semestinya. Cermat dan tepat. Bukan hanya sesuai bestek, melainkan juga niat dan tujuannya. Nabi Ibrahim akan mempertanggungjawabkan pekerjaannya itu sepenuhnya langsung kepada Allah SWT.
Sebelum pembangunan dimulai, Nabi Ibrahim terlebih dulu memanjatkan doa, memohon limpahan karunia untuk seluruh penjuru tanah air dan penghuninya tanpa kecuali. "Rabbi ij'al hadza baladan aminan warzuq ahlahu minats tsmarati man amana minhum billahi wal yaumil akhir". (Ya Allah, jadikanlah negeri ini negeri aman sentosa dan berikanlah rezeki dari aneka macam buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari akhir).
Allah SWT langsung menjawab doa Nabi Ibrahim itu, "Dan kepada orang kafir pun, Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa mereka menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali" (Q.S. Al-Baqarah:126).
Itulah profil pembangun sejati. Profil "Bapak Pembangunan" yang patut dipercaya dan diteladani. Nabi Ibrahim a.s. tidak menjadikan pembangunan sebagai alat politik, alat pengokoh kekuasaan, alat menundukkan rakyat dan ajang mencari untung. Pola pembangunan yang dijalankan Nabi Ibrahim justru meletakkan dasar-dasar yang kokoh, berlandaskan kejujuran dan keadilan, semata-mata demi kepentingan umat manusia dalam mempermudah berkomunikasi dengan Allah SWT dan dengan sesama manusia.
Modal pembangunan yang dikelola Nabi Ibrahim bersama Ismail bukan hasil pinjaman luar negeri yang mencekik, yang bunganya berlipat-lipat dan bunga-berbunga, sehingga susah dibayar oleh generasi kemudian. Bukan pula modal sisa dikorupsi sehingga yang diterapkan hanya sisa-sisa "bancakan" saja. Bukan pula sumber kekayaan yang dimanipulasi dan dimainkan menjadi alat kemakmuran semu.
Pembangunan Nabi Ibrahim a.s. benar-benar bermodalkan ketulusan. Tidak mengharapkan upah, pujian, atau konsesi dari sesama manusia, tapi semata-mata untuk mencapai keridaan Allah SWT yang terasa oleh setiap insan, sekecil apa pun status mereka.
Oleh karena itu, jadilah Baitullah di kota Makah Al-Mukaramah, sebagai tempat peribadatan umat manusia dari seluruh penjuru dunia. Mereka datang ke sana untuk tawaf, sa'i, i'tikaf, ruku', dan sujud mengagungkan dan mengesakan Allah.
Kesuburan, kemakmuran, keamanan, dan kesejahteraan Kota Mekah benar-benar terwujud berkat doa mustajab Nabi Ibrahim. Penduduk kota itu, juga para pendatang, mendapat limpahan rezeki yang tak habis-habisnya. Mulai dari berbagai jenis buah-buahan seperti kurma, zaitun, jeruk, pisang, pir, plum, persik, delima, semangka, dan lain-lain, hingga berbagai jenis tepung, minyak, biji-bijian, dan daging segala macam hewan yang dihalalkan. Sebagian bukan hasil asli Mekah, tapi diimpor dari negara-negara lain.
Mahabenar Perkataan Allah yang Mahaagung. Posisi Baitullah sebagai pusat kunjungan ritual manusia beriman, ternyata memberi dampak positif bagi manusia lain yang dikategorikan tidak beriman dan tidak Islam.
Mereka mendapat bagian rezeki di dunia berkat keterbukaan pasar yang tercipta di kawasan kaum Muslimin. Terutama Mekah dan Madinah yang menyerap segala kebutuhan konsumsi, baik makanan, pakaian, maupun peralatan lain, sepanjang tahun, bukan hanya pada musim haji saja.
Para petani pisang di Kuba, Karibia, dan negara-negara Atlantik Selatan yang rata-rata bukan Muslim, menerima jutaan dolar dari hasil ekspor pisang ke Saudi Arabia. Begitu pula perajin pakaian dari Korea, Jepang, Taiwan, Cina. Penggali batu mulia dari Eropa Timur, pengusaha daging dari Brasil dan AS, mayoritas mereka non-Muslim. Mahabenar Allah SWT dengan firman-Nya, "Wa man kafara ummati'uhu qalilan. Dan orang kafir pun Aku beri kesenangan sementara."
Nabi Ibrahim pun seusai menunaikan tugas merenovasi Kakbah, bersama Ismail, menyerahkan pekerjaannya untuk dinilai oleh Allah SWT. Beliau berdoa, "Rabbana taqabbal minna innaka antas sami'ul alim. Ya Allah, terimalah karya kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui."
Setelah menggarap projek besar yang sangat monumental dalam sejarah kebudayaan dan peradaban manusia itu, Nabi Ibrahim siap diaudit. Siap diteliti bahwa apa-apa yang ditugaskan Allah SWT kepadanya benar-benar dilaksanakan tanpa cacat dan cela sedikit pun.
Semoga kita mampu hadir bersimpuh di depan Kakbah, ruku dan sujud di dekat Maqam Ibrahim, mampu mengikuti jejak keteladanan tersebut. (H. Usep Romli H.M./"PR")***
| |