arif's posts with tag: ekonomi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag ekonomi
Blog EntryAPAKAH MENGEMIS ITU HALAL ??Jun 13, '08 10:35 AM
for everyone
Bos Pengemis Tinggal Nikmati Hidup
Cak To, begitu dia biasa dipanggil. Besar di keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil gagah, dan empat rumah. Berikut kisah hidupnya.

---

Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ''karir''-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.

Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.

Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pe mas ukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.

Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.

Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.

***

Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik.

Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ''orang mampu''. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.

Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ''Yang penting halal,'' ujarnya mantap.

Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun. Menurtu dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI.

Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ''Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,' ' ungkapnya.

Karena mengemis di Bangkalan kurang ''menjanjikan' ', awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.

Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ''bakat'' Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat.

Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ''Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,'' ungkapnya bangga.

Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ''Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),'' tegasnya.

Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ''Kami berpencar kalau mengemis,'' jelasnya.

Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.

***

Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ''ilmu'' dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.

Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ''Pokoknya sudah enak,'' katanya.

Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ''Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,'' kenangnya.

Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah.

Cerita tentang ''keberhasilan' ' Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ''Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,'' ujarnya enteng.

Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ''Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,'' tegasnya.

Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur.

Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ''pos khusus'', Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan.

Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri.

Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri mas a lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan. ..

***

Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari.

Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.

Menurut Cak To, dia tidak me mas ang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ''Ya alhamdulillah, anak buah saya mas ih loyal kepada saya,'' ucapnya.

Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada mas jid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah mas jid di Gresik. ''Amal itu kan ibadah. Mumpung kita mas ih hidup, banyaklah beramal,'' katanya.

Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ''Saya ingin naik haji,'' ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010 nanti... (ded/aza)
 
Sumber : jawapos


ReviewReviewReviewLEPAS DARI CGI, BILATERAL HARUS KUATJan 25, '07 1:49 PM
for everyone
Category:Other
JAKARTA--MIOL: Langkah pemerintah mengakhiri ketergantungan terhadap Consultative Group on Indonesia (CGI) harus diikuti dengan penerapan kebijakan yang cerdas oleh sejumlah menteri ekonomi. Hubungan bilateral harus dipererat.

"Artinya, dengan suara bulat, pemerintah harus bisa memperdalam hubungan bilateral yang sudah ada dengan sejumlah negara di Asia seperti, Jepang, dan China, termasuk dengan Timur Tengah," ujar pengamat ekonomi Revrisond Baswir di Jakarta, Kamis (25/1).

Menurut Revrisond, dari semua sisi baik politik internasional maupun ekonomi, lepas dari format CGI mutlak dilakukan karena tidak ada nilai tambah bagi jalannya sistem ekonomi Indonesia.

"Selama ini keberadaan CGI justru dimanfaatkan oleh pejabat pemerintahan untuk menjalin hubungan bersifat pribadi, bukan untuk kepentingan nasional," ujarnya.

Hal itu, katanya, terbukti di masa pemerintahan sebelum kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, tidak semua menteri bidang ekonomi setuju pembubaran. Akibatnya, desakan agar Indonesia tidak lagi memanfaatkan forum CGI berkali-kali dimentahkan sejumlah menteri, termasuk pengamat ekonomi ketika itu. "Ketika itu ada menteri yang justru mencari dukungan politik dari luar negeri (forum CGI) dengan cara memberi laporan dan masukan soal adanya pihak-pihak yang berseberangan dengan CGI," ungkap Revrisond yang juga Guru Besar Universitas Gadjah Mada.

Hal senada juga diungkapkan Rizal Ramli, mantan Menteri Koordinator Perekonomian di masa pemerintahan Abdurrahman Wahid.

Menurut Rizal, langkah pemerintah keluar dari format CGI merupakan langkah berani. Hal itu bisa menjadi langkah awal untuk meningkatkan kemandirian, dalam merumuskan strategi dan kebijakan ekonomi Indonesia.

"Setelah lebih dari 40 tahun, sejak awal Orde Baru, Indonesia sangat bergantung pada forum kreditor, kini CGI dulu bernama IGGI. Dalam praktiknya konsorsium kreditor ini bertindak sebagai kartel yang menekan dan memaksa Indonesia mengikuti kebijakan ekonomi yang prokepentingan kreditor," kata Rizal Ramli.

Padahal, kepentingan negara kreditor belum tentu sesuai dengan kepentingan nasional dan rakyat Indonesia. Hal itulah, menurut dia, penyebab Indonesia tidak pernah bisa menjadi salah satu negara besar di Asia. "Karena kebijakan ekonominya didikte dan dirumuskan oleh konsorsium kreditor tersebut."

Mobilisasi penerimaan

Rizal berpendapat dalam kondisi lepas dari format CGI, bisa mencari sumber pendanaannya dengan memobilisasi peningkatan penerimaan dalam negeri dan menerbitkan obligasi internasional. "Upaya ini tidak akan memaksa Indonesia untuk menerbitkan atau membuat UU yang melanggar konstitusi," jelasnya.

Saat menyikapi hal itu, Direktur Eksekutif INFID (International NGO Forum on Indonesian Development) Donatus Klaudius Marut berpendapat, pemerintah perlu menyelesaikan masalah pembayaran utang secara komprehensif. Selain itu pemerintah wajib mengevaluasi secara komprehensif soal sustainabilitas dan efektivitas proyek-proyek yang dibiayai utang luar negeri.

"Untuk mewujudkannya pemerintah Indonesia harus segera menyelesaikan penyusunan Rancangan Undang-undang Pengelolaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri melalui proses yang terbuka dan transparan," ujarnya.

Lebih jauh Donatus menilai lepas dari format CGI merupakan langkah yang sangat strategis dan signifikan untuk membangun kemandirian dan meningkatkan posisi tawar Indonesia, dalam percaturan politik dan ekonomi global.

Pasalnya, kondisi yang menyertai sejumlah utang yang diberikan melalui CGI pada taraf tertentu telah mencederai Indonesia sebagai negara yang berdaulat. (Ant/RO/OL-01)





Category:Other

TEMPO Interaktif, Jakarta:emerintah Indonesia dan ExxonMobil Oil Indonesia melakukan negosiasi ulang kontrak pengembangan blok gas Natuna D Alpha.

Tujuan negosiasi itu, menurut Kepala Badan Pengelola Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) Kardaya Warnika, agar syarat kontrak menjadi lebih baik untuk pemerintah dibandingkan kontrak lama yang ditandatangani pada 1995 lalu.

Dia menjelaskan saat ini sudah sudah mulai pembicaraan untuk negosiasi kontrak baru tersebut. "Kami mau ada term kontrak lebih baik termasuk soal split (bagi hasil)," kata Kardaya di Jakarta kemarin.

Dalam kontrak lama, bagi hasil yang diperoleh ExxonMobil 100 persen dan pemerintah nol persen. Pemerintah hanya mendapat bagian dari pajak yang disetor ExxonMobil.

Kardaya membenarkan awalnya ada tiga opsi yang diajukan pemerintah soal keputusan akhir kontrak Natuna. Pemerintah berpendapat kontrak berakhir sejak 2005 dengan masa perpanjangan bersyarat selama 2 tahun sedangkan ExxonMobil bersikukuh berakhir pada 2009.

Ketiga opsi itu meliputi : Pertama melakukan tender ulang untuk Blok Natuna. Kedua, blok tersebut diserahkan ke Pertamina. Ketiga melakukan renegosiasi kontrak dengan term and condition lebih baik untuk pemerintah.

Kardaya menambahkan opsi yang dijalankan BP Migas saat ini yang ketiga."Kami sedang melakukan pembicaraan negosiasi ulang kontrak, sehingga opsi pertama dan kedua tidak dilakukan" katanya.

Juru Bicara ExxonMobil Deva Rachman membenarkan telah ada kesepakatan untuk memulai pembicaraan negosiasi kontrak. "Dalam waktu dekat ada pembicaraan negosiasi," katanya.


*tempointeraktif*

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help