arif's posts with tag: boga

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag boga
Blog EntryMakanan pagi ketika ke BandungSep 13, '06 1:08 PM
for everyone
Sarapan Pagi Saat Fajar Menyingsing
Mencari Bubur Ayam atau Surabi?

BIAR enggak loyo dan punya tenaga untuk beraktivitas seharian, jangan lupa sarapan. Selain jadi suntikan tenaga, sarapan juga bisa meningkatkan daya ingat dan konsentrasi. Kalau tidak sempat masak atau malas bergulat di dapur, beli jadi saja. Saat ini banyak tempat makan yang menyediakan sarapan pagi.

BUBUR Pelana, salah satu tempat favorit warga Bandung yang mencari sarapan pagi di kawasan Tegallega Bandung. Bubur Pelana yang berada di Jln. Pelana itu dirintis Dayat sejak tahun 1976 dan kini memiliki 5 cabang di Kota Bandung.*DUDI SUGANDI/”PR”

Ambil contoh bubur ayam H. Oyo "Anugerah" di Jln. Ir. H. Djuanda 151, Bandung. Tempat makan yang satu ini, buka sejak pukul 5.30 WIB dan tutup pada pukul 21.00 WIB setiap hari. Namun, menurut sang pemilik Siti Suhaelah dan Sudarno, bisa saja tempatnya itu tutup setelah pukul 23.30 WIB.

"Terutama malam Minggu, banyak sekali anak muda yang datang dan makan di sini," tutur Siti.

SURABI Ma Yoyoh di samping Monumen Perjuangan Rakyat Jabar dan pelanggan ciliknya.*HARRY SURJANA/"PR"

Meski demikian, banyak juga pembeli yang datang pada pagi hari. Biasanya bila sudah menunjukkan pukul 7.00 WIB, mulai berdatangan para pembeli yang tak hanya dari kalangan anak remaja, tetapi juga orang dewasa khususnya para karyawan.

Selanjutnya, pada akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu, tak jarang warga dari luar Bandung menyempatkan diri untuk berkunjung ke sini. "Tidak hanya dari Jakarta, juga ada yang datang dari Makassar untuk mencicipi bubur ayam di sini," tambahnya.

Di sini, menu bubur ayam yang menjadi andalan dan merupakan favorit bagi pembeli yaitu bubur ayam "komplit" yang terdiri dari sepiring bubur dan dipenuhi dengan suwiran daging ayam, cakue, ati ampela, dan telur seharga Rp 8.000,00. Biasanya yang menjadi jodohnya yaitu teh manis hangat atau air jeruk hangat.

Selain itu, masih ada bubur "ayat", yaitu bubur ayam, cakue, dan ati ampela. Ada pula bubur "atel" yaitu bubur ayam, cakue dan telur. Bagi yang tidak menyukai tambahan macam-macam, bisa memesan bubur saja, tanpa tambahan apa pun.

Menurut pemiliknya, dalam sehari bisa menghabiskan telur sebanyak 7 kg dan 150 pasang ati ampela. Dalam sehari omzet yang dihasilkan bisa melebihi Rp 1 juta dan untuk akhir pekan seperti malam Minggu, omzet yang dihasilkan bisa mencapai Rp 3 juta. Menurut Siti, untuk jualan di pagi hari diperlukan beras sebanyak 10 liter yang khusus dimasak di rumah.

Menjelang siang, jika sudah habis, maka akan ditambah lagi. Untuk menghadapi persaingan dengan tempat bubur ayam yang lain, Siti dan Sudarno punya kiat yaitu selalu menjaga kualitas dan pelayanan. Misalnya, karena bubur tidak dapat bertahan lama, maka sajian selalu diganti setiap harinya.

Untuk pelayanan, jika memang ada yang menginginkan untuk katering dan sebagainya, maka tinggal memesannya saja.

Ada lagi tempat makan yang diserbu oleh pengunjung, kala pagi mulai menjelang, namanya Nasi Uduk Sunda Kelapa. Letaknya berada di sebelah Gedung Sate, tepatnya di Jln. Cilaki Bandung. Buka sejak pukul 6.30 WIB hingga 14.00 WIB, makanan yang disajikan ada dua jenis yaitu nasi uduk dan lontong kari. Meski buka setiap hari, penjualan selalu meningkat di hari Minggu. Bahkan menurut Asep dan Hakim selaku pemilik, para pembeli diberikan nomor untuk menunggu giliran.

Untuk sepiring nasi uduk, pilihan lauknya mulai dari ayam goreng, gepuk, telur, tempe bacem, tahu, paru, usus goreng, dan babat.

Untuk seporsi nasi uduk, kisaran harga diterapkan mulai dari Rp 10.000,00. Menurut Asep, omzet dalam sehari bisa mencapai Rp 500.000,00. Untuk bahannya, beras dihabiskan bisa mencapai 5 kg sekali masak.

Ada pula Kupat Tahu Gempol, yang terletak di Jln. Gempol, Bandung. Tempat ini bukanya mulai pukul 5.30 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Meski sajiannya seharga Rp 7000,00 hanya terdiri dari tahu, lontong, tauge dan kuah kacang, namun, untuk sarapan sangat mengenyangkan dan pas sekali jika dipasangkan dengan minum teh tawar hangat. Menurut Hj. Yayah, selaku pemilik kupat tahu, dalam sehari bisa menghabiskan tahu sebanyak 300 biji dan 30 buah lontong. "Khusus lontong, saya buat sendiri," kata Yayah menjelaskan.

Memang terbukti lain ketika dicicipi, terasa gurih, berbeda dengan sebagian besar lontong yang tidak memiliki rasa. Usaha ini berdiri sejak tahun 1965. Pembelinya mulai anak-anak hingga orang tua, ada dari kalangan artis seperti Rano Karno, Gito Rollies, pernah mampir. Kupat Tahu Gempol ini dapat diperoleh pula dengan mengunjungi cabangnya yang berada di Setiabudi dan di areal Gasibu.

Bicara omzet, seharinya mencapai Rp 800.000,00 hingga Rp 1 juta. Pada saat akhir pekan, bisa mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

Bukan hanya bubur ayam, kupat tahu, dan lontong kare, dari sisi makanan tradisional, sebut saja seperti surabi, ternyata juga banyak peminatnya.

Seperti penjual surabi yang terletak di kawasan Sukajadi Bandung, banyak diburu orang untuk dijadikan makanan cemilan di pagi hari. Lebih dari 4 kg tepung dihabiskan per hari untuk memenuhi permintaan orang-orang yang terbiasa memanfaatkan surabi sebagai makanan pagi mereka.

"Makan surabi lebih praktis, ini jika dibandingkan dengan bubur atau yang lain. Kalau kesiangan cukup beli surabi saja untuk bekal makan di jalan menuju toko," ujar Undang (22) salah satu pramuniaga di salah satu minimarket di Sukajadi.

Bukan hanya Undang, siswa salah satu SMA di Bandung, Yudha (17) juga mengatakan, untuk mengisi perutnya yang kosong, dirinya memilih membeli surabi.

Selain karena harganya yang murah hanya sekira Rp 750,00 hingga Rp 1.500,00 per potong, dengan dua surabi Yudha mengaku sudah cukup untuk mengganjal perutnya hingga jam istirahat tiba.(Ari Dwi/Ari Nur/"PR").


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help